"Sekarang kita mengalami kebebasan yang luar biasa, bahkan ada yang beranggapan kekayaan negeri ini bisa dinikmati oleh semua. Pada akhirnya kita yang punya kebun, orang yang menikmati,"
Medan, 20/8 (antarasumut)- Direktur Istiqomah Mulya Foundation, Prof. Dr Syahrin Harahap, MA mengatakan, "hubbul wathan" (rasa cinta tanah air) generasi saat ini telah tergerus oleh  
neoliberalisme, paham Ekonomi yang mengutamakan sistem kapitalis perdagangan bebas, ekspansi  pasar, privatisasi/Penjualan badan usaha milik negara.

"Sekarang kita mengalami kebebasan yang luar biasa, bahkan ada yang beranggapan kekayaan  negeri ini bisa dinikmati oleh semua. Pada akhirnya kita yang punya kebun, orang yang  menikmati," katanya dalam dialog "hubbul wathan" bersama para tokoh ulama dan cendikiawan  muslim di Medan, malam Kamis.

Menurut dia, nilai-nilai kearifan lokal mulai ditinggalkan, padahal itu yang membuat bangsa ini dibanggakan. Generasi saat ini banyak yang lebih tertarik pada nilai-nilai budaya luar  yang belum tentu positif.

Wajar jika kemudian muncul keresahan dalam menghadapi berlakunya masyarakat ASEAN (MEA). Pertanyaannya, apakah  Indonesia akan menjadi negara pemberi (ekspor) atau sebaliknya penerima barang atau produk luar.

"Dalam konteks menyikapi globalisasi, maka penting untuk mendialogkan bagaimana kita mencintai 
Indonesia," katanya.

Dijelaskan dia, "hubbul wathan" ada di dalam hati berupa suara Tuhan untuk mencintai negeri  ini. Sebagai ilustrasi adalah pengorbanan yang dilakukan para pahlawan untuk membebaskan  Indonesia dari penjajahan, tanpa memikirkan akan mendapatkan apa. Seorang sarjana hebat yang lebih memilih bekerja di dalam negeri, meskipun ada imin-iming mendapatkan kemewahan di negara luar.

"Sebaliknya ada juga, yang karena merasa pernah belajar di luar negeri, seolah sudah menjadi bagian masyarakat luar," katanya.

Narasumber lainnya dalam dialog tersebut yakni Founder Ivan Iskandar Institute, H Ivan Iskandar Batubara, SE yang juga ketua Kadin Sumut. Menurut dia, para pemimpin negeri ini sudah seharusnya mencontoh para pejuang yang dengan keteladananya telah mencatatkan namanya dalam tinta emas sejarah.

"Kita butuh pemimpin yang berani menjadi teladan bagi masyarakat, berhenti memberi contoh tidak baik," katanya.

Kondisi sekarang ini menurutnya, hasil kerja kolektif sehingga tidak perlu saling menyalahkan.  Kelebihan dan kekurangan yang ada pada bangsa Indonesia saat ini adalah hasil kerja bersama.

Sementara itu, Koordinator nBASIS, Drs Shohibul Anshor Siregar, MSi mengingatkan, perlunya belajar dari apa yang telah dilakukan para pemimpin pendahulu. Di lingkup daerah, nama-nama seperti Gubernur Sumut, SM Amin, Marah Halim sampai Raja Inal Siregar. Para pemimpin daerah itu dikenang karena karya-karyanya yang masih bisa dinikmati oleh generasi muda saat ini.

"Jejak mereka yang penuh catatan prestasi yang melekat pada sejarah, berguna untuk orang kemudian," katanya. 
 

 



Pewarta: Ribut Priadi
Editor : Ribut Priadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026