Keadaan ini terlihat pada sejumlah toko-toko maupun kios dikawasan Pasar Gambir I dan II Jalan MT Haryono yang berada percis ditengah kota, pedagangpun mengaku belum ada tanda-tanda akan terjadi lonjakan transaksi jual beli.
Seorang pedagang Syafrial alias Mak Iyal (60), meskipun waktu lebaran tinggal hanya beberapa hari lagi, pembeli masih sepi-sepi saja, keadaan ini semakin menurun dari tahun-tahun sebelumnya, sayapun tidak mengetahui secara pasti apa penyebabnya kelesuan ini.
Tahun lalu apabila sudah mendekati hari H seperti ini pembeli umumnya sudah mulai berdatangan mencicil barang-barang yang akan digunakan dalam lebaran, tapi nyatanya hari ini hampir sama sekali tidak terpengaruh, ujar Mak Iye pedagang sepatu.
Disampaikannya, kami ini pedagang harapan terbesar sudah pasti saat akan memasuki Idul Fitri setiap tahunnya sebagian warga biasanya akan berbelanja ke pasar tradisional, karena disini masih ada kebiasaan tawar menawar harga, bagi ekonominya yang masih pas-pasan.
Namun tahun 2015 ini sulit memprediksi kondisi ekonomi saat ini dan semua kita dapat merasakannya, dan kamipun membatasi pesanan dari pemasok barang, jika mau lebaran saja begini apalagi nanti hari-hari biasa, bisa saja tidak terjadi transaksi jual beli seharian, ujarnya.
Prediksi pedagang lesunya jual-beli akibat waktu yang berdekatan Hari Lebaran dengan persiapan masuknya anak sekolah, hingga warga memilih mendahulukan kepentingan untuk sekolah ketimbang persiapan menghadapi lebaran, inilah kenyataan yang kami terima.
Ellia seorang pedagang busana, salah satu penyebabnya keadaan ini biaya hidup yang semakin memberatkan, dan pendapatan tidak ikut meningkat, PNS pun berharap gaji ke 13 untuk segera dibayarkan, untuk digunakan membeli keperluan sekolah, katanya.
Seorang konsumen Ida (45) warga Kecamatan Bajenis lesunya minat pembeli alasannya karena lebaran dan anak sekolah masuk baru maupun naik kelas waktunya mepet sekali dan yang menjadi prioritas utama keperluan untuk anak sekolah.
Biarlah perayaan Idul Fitri ini dirayakan sederhana saja, untuk anak sekolah yang didahulukan, kita berupaya melakukan penghematan, dengan memanfaatkan dana yang ada secukupnya saja.(del)
“Saat ini saya punya tanggungan 4 anak, satu SMA, satu SMP dan dua keponakan yang jadi tanggungan kami, masih SD. Mereka sangat membutuhkan biaya sekolah yang banyak. Dari pada untuk membeli pakaian lebaran dan kebutuhan sesaat, mendingan uangnya untuk pembiayaan kebutuhan sekolah”, ucapnya.
Dalam kondisi seperti ini, tentunya para orang tua akan lebih memilih atau menekan biaya konsumsi dan untuk kebutuhan lebaran yang bagi sekalangan masyarakat hanya cukup disiapkan sekedarnya saja, bahkan sekalangan masyarakat lebih memilih uang yang ada dialihkan untuk kebutuhan biaya sekolah.(del)
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.