"Sebagian nelayan kecil tersebut, ada yang tidak jadi melaut karena ketiadaan solar di daerah itu," kata Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Batubara, Eddy Alwi dihubungi dari Medan, Sabtu.
Kelangkaan solar itu, menurut dia, tidak hanya terdapat di Sentral Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Batubara, tetapi juga di Sentral Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).
"Jadi, nelayan yang akan mengisi solar di SPBN, juga tidak ada dan sering habis, sehingga mereka banyak yang kecewa," katanya.
Bahkan, kata dia, sebentar saja nelayan terlambat untuk mengisi solar di SPBN di Batubara akan habis dan gagal menangkap ikan ke laut.
"Pemerintah Kabupaten Batubara agar memperhatikan permasalahan yang dihadapi nelayan tradisional tersebut dan sampai kapan kendala ini akan berakhir," ujarnya.
Alwi menambahkan, akibat sulitnya memperoleh solar itu, pendapatan nelayan juga semakin menurun.
Biasanya hasil tangkapan yang diperoleh nelayan pemancing di Batubara, mampu mendapatkan ikan kakap mencapai 60 kg hingga 80 kg per hari.
"Namun, saat terjadinya kelangkaan solar, tangkapan ikan menurun drastis dan hanya mampu diperoleh 40 kg per hari," kata Ketua HNSI.
Begitu juga hasil tangkapan nelayan pukat cincin mampu mencapai 400 hingga 500 kilogram selama beberapa hari di laut, namun belakangan ini merosot dan hanya diperoleh 150 kg.
"Kehidupan nelayan Batubara, mulai terancam dan mereka juga banyak yang tidak bekerja dan menganggur di rumah," kata Alwi. ***2***
Pewarta: Munawar Mandailing:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.