Dalam rapat paripurna DPRD Sumut dengan agenda pembahasan Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2013 di Medan, Senin, Gubernur Sumut Gatot Pujonugroho mengatakan, dua daerah di Kepulauan Nias yang menempati peringkat tertinggi yakni Kabupaten Nias (13,3 persen) dan Nias Selatan (10,1 persen).
Sedangkan tiga daerah lain adalah Tapanuli Selatan (6,1 persen), Tapanuli Tengah (5,9 persen), dan Mandailing Natal (5,2 persen).
Keberadaan lima daerah yang paling tinggi mengalami prevalensi gizi buruk tersebut didapatkan berdasarkan survei bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU).
Untuk menanggulangi prevalensi gizi buruk tersebut, Pemprov Sumut telah melaksanakan sejumlah program melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat.
Ia mencontohkan penyediaan makanan pendamping air susu ibu (ASI) bagi balita yang mengalami kurang gizi dan gizi buruk.
Pemprov Sumut juga berupaya meningkatkan kemampuan puskesmas dan membentuk 18 puskesmas perawatan dengan meningkatkan fungsi pelayanan terapi pemulihan gizi (therapy feeding centre/TFC).
Demikian juga pemberian dana pendamping bagi keluarga balita yang mengalami prevalensi gizi buruk dan kurang agar mampu mendapatkan makanan yang bisa menghasilkan gizi.
Sejumlah rumah sakit juga ditingkatkan kapasitasnya untuk mampu menangani kasus gizi buruk, sambil merevitalisasi posyandu serta melaksanakan jambore dan pelatihan kader posyandu.
***3***
Chandra HN
(T.I023/B/C. Hamdani/C. Hamdani)
Pewarta: Irwan Arfa:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.