Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat mengatakan bahwa mata uang rupiah bergerak menguat meski tipis terhadap dolar AS setelah data harga konsumen Amerika Serikat masih berada di bawah target Bank Sentral AS atau The Fed.
"The Fed juga masih mempertahankan suku bunga rendah. Diharapkan kondisi itu membuka peluang bagi rupiah melanjutkan penguatan," kata Ariston Tjendra.
Kendati demikian, lanjut Ariston, dolar AS masih berada di jalur penguatan terhadap mayoritas mata uang utama dunia seiring data penjualan ritel AS yang positif.
"Spekulasi pemulihan ekonomi AS masih dapat bertahan sehingga pemangkasan pembelian aset dalam program 'quantitative easing' (QE) terlaksana pada tahun ini," katanya.
Sementara itu,Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada menambahkan, adanya pengumuman kenaikan inflasi negara Jerman dan penurunan neraca perdagangan Italia dapat menahan penguatan mata uang negara-negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia.
"Sentimen positif bagi pasar keuangan dalam negeri juga cukup minim sehingga rupiah masih berada dalam tren melemah," kata Reza. ***2***
zmf/b/a011 arnaz (T.KR-ZMF/B/A.F. Firman/A.F. Firman) 17-01-2014 10:35:17
Pewarta: Zubi Mahrofi:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.