"Sebagian besar pemberitaan mengenai kecurangan pemilu hanya mengulas permukaannya saja, tidak rinci sehingga masyarakat tidak tahu bagaimana kecurangan itu bisa dilakukan," ujarnya di Gorontalo, Senin.
Menurutnya, media massa sebaiknya menguraikan apa saja yang dilakukan oleh oknum politisi dan penyelenggara pemilu, untuk mencuri atau menggelembungkan suara.
Dengan menjelaskannya kepada pembaca maupun masyarakat, lanjutnya, aksi curang itu bisa dicegah sehingga pemilu lebih bersih dan berkualitas.
Agar bisa menulis hal itu dengan rinci, Iwan menilai seorang wartawan harus melakukan investigasi, mencari sumber kredibel dan selalu melakukan verifikasi.
Ia mencontohkan adanya penggelembungan suara yang sebagian besar dilakukan saat rekapitulasi oleh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).
"Biasanya wartawan fokus meliput di TPS saja dan lupa mengawasi perhitungan oleh PPK. Akibatnya pencurian suara dengan mudah bisa dilakukan," tukasnya.
Iwan menilai tugas berat pengawasan pemilu sebenarnya ada di tangan wartawan, bukan penyelenggara pesta demokrasi tersebut.
"Penyelenggara pemilu sangat mungkin turut bermain curang, tapi wartawan jangan sampai melakukannya. Kalau tetap ingin bermain lumpur, saran saya berhenti saja jadi wartawan," tandasnya. (D015)
Pewarta: Debby Hariyanti Mano:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.