"Biasanya pada Agustus hingga Oktober, harga TBS cenderung turun karena pada bulan-bulan itu pasokan melimpah terkait puncak masa panen yang terjadi pada September. Tapi tahun ini, hal itu tidak terjadi," kata Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Anizar Simanjuntak di Medan, Sabtu.
Menurut laporan petani dan pengamatan di lapangan, kata dia, sejak September hingga awal Oktober 2013, produksi relatif stabil yang diduga karena dampak cuaca ekstrem.
"Meski di satu sisi merugikan karena produksi tidak banyak, di sisi lain, panen sedikit itu menguntungkan petani karena harga jual bertahan mahal," katanya.
Biasanya pada September dan Oktober, tren harga TBS anjlok karena produksi melimpah bahkan pabrikan sering menolak TBS petani karena kapasitas pabrik kelapa sawit (PKS)-nya sudah penuh bahkan melebihi kapasitas.
Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Derom Bangun menyebutkan tidak terjadinya panen puncak di Indonesia juga menyebabkan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) bertahan mahal.
Walau terjadi penurunan produksi, tapi kenaikan harga internasional tidak terlalu signifikan atau tetap berada di sekitar 800-an dolar AS per metrik ton.
"Harga CPO pekan ini di sekitar 815 dolar AS dari sebelumnya memang sempat 830 dolar AS per metrik ton," kata Derom Bangun. (E016)
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.