PT Bank Sumut (Perseroda) menargetkan pertumbuhan aset bank pembangunan daerah (BPD) ini tembus Rp100 triliun pada 2030 dari posisi hingga Desember 2025 sebesar Rp48,6 triliun belum diaudit.

"Yang mana komitmen kami bersama direksi adalah untuk 2030, supaya aset kita bertumbuh menjadi Rp100 triliun," ucap Komisaris Utama Bank Sumut Firsal Ferial Mutyara di Medan, Kamis (12/2).

Hal ini, menurut dia, sesuai dengan arahan Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution meminta Bank Sumut lebih fokus, dan menunjukkan kinerja yang lebih tinggi.

Tercatat, kinerja Bank Sumut hingga akhir Desember 2025 mencatatkan laba sebesar Rp755 miliar, dan total aset mencapai Rp48,6 triliun.

Sedangkan penyaluran kredit sebesar Rp32 triliun, dan dana pihak ketiga yang dihimpun dari nasabah atau masyarakat mencapai Rp38,6 triliun.

"Terus return of equity meningkat menjadi 20 persen, return on assets lima persen, dan BOPO (biaya operasional terhadap pendapatan operasional) di bawah 70 persen," jelas Firsal.

Pihaknya juga mengatakan, pencapaian ini telah diamanahkan kepada dewan komisaris sebagai perpanjangan tangan pemegang saham untuk bisa mengeksekusi bersama jajaran direksi Bank Sumut.

"Ini menjadi target kita bersama-sama. Kita mencari solusi, strategi apa yang dijalankan. Nanti kita bersama-sama seluruh kepala divisi, kepala cabang, direksi dan komisaris agar target itu bisa tercapai," tegas Firsal.

Direktur Utama Bank Sumut Heru Mardiansyah mengatakan, transformasi yang dijalankan ini bertujuan menjaga relevansi perbankan di tengah perubahan ekonomi dan kebutuhan nasabah.

"Transformasi ini bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan agar bank tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi, ekonomi, dan perilaku masyarakat," papar Heru.

Strategi tersebut  dijalankan melalui konsolidasi internal, penataan organisasi, percepatan digitalisasi, penguatan peran sebagai mitra pemerintah daerah, dan masyarakat.

Bank Sumut mengarahkan penguatan kepada tiga hal utama, yakni menjaga fundamental kelembagaan yang sehat, dan menghadirkan layanan digital mudah diakses.

"Terakhir, memperluas dukungan terhadap UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) serta sektor produktif," jelas Heru.

Dia mengatakan, digitalisasi ditempatkan sebagai sarana meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi proses bisnis, sekaligus memudahkan masyarakat mengakses layanan keuangan. 

Di sisi lain, peningkatan pembiayaan produktif diharapkan memberi dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk pada pertumbuhan usaha lokal.

"Peran bank daerah tidak hanya soal bisnis, tetapi juga memperluas inklusi keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah. Itu yang terus kami perkuat," kata Heru.

 

Pewarta: Muhammad Said

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2026