Belakangan ini keluhan kulit sensitif semakin sering muncul di Kota Medan, karena banyak yang mengira kulit mereka tiba-tiba mudah merah, perih atau reaktif karena "enggak cocok skincare".

Namun menurut para dokter kulit kenyataannya tidak sesederhana itu, seperti yang diungkapkan dokter spesialis kulit dari ERHA Central Medan dr Ariyati Yosi MKed(KK) SpDVE SubspDT FINSDV FAADV.

"Kulit sensitif justru sering terjadi karena kombinasi faktor lingkungan, kebiasaan perawatan hingga gaya hidup masyarakat yang tinggal di kota besar," ucap dr Yosi di Medan, Jumat (30/1).

Ia mengatakan, cuaca khas Medan yang panas-lembap, aktivitas padat, serta tren skincare yang berubah cepat, maka kondisi kulit lebih mudah mengalami iritasi tanpa disadari.

"Kulit sensitif, bukan sekadar tidak cocok skincare. Ini biasanya terjadi karena skin barrier sedang melemah, dan penyebabnya bisa banyak," jelas dr Yosi.

Menurutnya, ada lima mitos kulit sensitif sering salah kaprah menilai, yakni mitos kulit sensitif itu karena skincare-nya terlalu keras. Faktanya perubahan cuaca ekstrem, polusi, dan stres juga bisa membuat kulit lebih reaktif.

Terdapat mitos, kalau perih itu tandanya skincare bekerja. "Perih itu tanda kulit sedang iritasi, bukan progres," kata dia.

Kemudian, ada mitos kulit sensitif itu tipe kulit permanen. Banyak kasus kulit sensitif bersifat sementara dan bisa membaik jika barrier diperbaiki.

"Stop semua skincare biar kulit tenang, tidak harus. Yang perlu dihentikan hanya produk yang berpotensi iritan," tuturnya.

Lalu, mitos kulit sensitif harus dibiarkan sampai sembuh sendiri, padahal tanpa penanganan yang benar, iritasi bisa berulang dan memperburuk kondisi.

"Sering kali pasien datang sudah dalam kondisi berat karena dibiarkan terlalu lama," ungkapnya.

Dengan pengalaman lebih dari 17 tahun, dr Yosi juga sering menangani kasus-kasus kulit sensitif, dan berbagai permasalahan kulit membutuhkan pendekatan bertahap.

Bahkan, ada banyak pasien lebih nyaman setelah berkonsultasi mengenai proses perawatan secara transparan.

Lantas kenapa banyak masyarakat Medan mengalami Kulit Sensitif?, dr Yosi banyak menemukan beberapa penyebab sering ditemui pada pasien.

"Di Medan, kombinasi cuaca dan kebiasaan perawatan sering jadi pemicu iritasi berulang," ujarnya.

Tak jarang juga, pasien datang untuk memperbaiki kondisi kulit setelah memakai produk yang tidak sesuai atau mengikuti tren skincare tanpa edukasi yang benar.

Cara aman menangani kulit sensitif, yaitu berhenti dahulu dari produk yang berpotensi iritan, seperti retinol, exfoliant, atau produk dengan pewangi kuat bisa memperburuk kondisi.

Kedua, fokus memperbaiki skin barrier dengan menggunakan moisturizer yang menenangkan, dan menjaga kelembapan sesuai dengan jenis kulit.

Ketiga, gunakan sunscreen yang lembut dan non-irritating karena sangat penting mencegah inflamasi berulang, terutama cuaca di Medan harus disesuaikan aktivitas harian, dan tentunya jenis kulit.

Keempat, sederhanakan rutinitas skincare dengan membiarkan kulit stabil sebelum menambah produk lain.

Kelima, konsultasi jika keluhan tidak membaik. Kulit sensitif bisa menjadi tanda dermatitis, alergi, atau kondisi lain yang perlu pemeriksaan lebih lanjut.

"Penanganan kulit sensitif itu bertahap. Yang penting aman, jelas, dan sesuai kebutuhan masing-masing orang," tutur dr Yosi yang dikenal ramah dan komunikatif dengan pasien ini.

Ia menekankan, setiap kondisi kulit bersifat unik. "Saya sarankan melakukan konsultasi langsung dengan dokter di ERHA agar penyebab kulit sensitif dapat dianalisis secara menyeluruh," tegas dr Yosi.

Pewarta: Muhammad Said

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2026