Camat Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Ahmad Saufi Pasaribu, mengatakan sebanyak 210 kepala keluarga atau 787 jiwa korban bencana banjir bandang dan longsor 25 November 2025 masih menempati pos pengungsian terpadu di Desa Kebun Pisang.
Ia menjelaskan, para pengungsi berasal dari empat desa terdampak, yakni Desa Kebun Pisang, Desa Lubuk Tua, Desa Lubuk Pulo, serta satu desa dari kecamatan tetangga yang dipusatkan di lokasi tersebut.
“Masyarakat mulai dipindahkan ke pos ini sejak 21 Desember 2025 dari sejumlah titik pengungsian seperti rumah warga dan lokasi darurat lainnya,” ujar Ahmad Saufi menjawab ANTARA, Selasa (13/1).
Menurut dia, pemerintah kecamatan telah mengusulkan lahan kepada pemerintah kabupaten untuk pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak bencana.
Ia menyebutkan, sebagian warga yang rumahnya telah dibersihkan mulai kembali, sementara sekitar 56 KK masih membutuhkan pembangunan hunian.
Terkait skema hunian, Ahmad Saufi menjelaskan pemerintah menyiapkan dua opsi, yakni hunian tetap yang dibangun pemerintah di lokasi tertentu serta hunian mandiri bagi warga yang memiliki lahan sendiri.
Selama di pengungsian, kebutuhan dasar pengungsi dinilai relatif terpenuhi, termasuk air bersih yang disuplai melalui kerja sama dengan PDAM dan pemanfaatan sumur air gunung.
Fasilitas pendidikan darurat juga disiapkan bagi anak-anak, mulai dari PAUD hingga SD, dengan memanfaatkan tenda belajar dan bangunan semi permanen.
“Kebutuhan logistik sejauh ini dapat kami atasi berkat dukungan pemerintah daerah dan berbagai lembaga kemanusiaan,” katanya
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Lions Club Internasional dan terima kasih kepada para donatur lainnya dan lembaga kemanusiaan yang terus membantu meringankan beban para pengungsi.
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2026