Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan alat ukur tumbuh kembang bayi segera disalurkan ke seluruh posyandu di Indonesia.

"Untuk peningkatan kapasitas penanganan stunting dari Kementerian Kesehatan. Kalau ada yang belum tahu, nanti akan segera didrop alat-alat untuk pengukuran terkait stunting,” kata Muhadjir saat ditemui di Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu.

Muhadjir menuturkan alat ukur tersebut akan digunakan untuk mengukur kondisi pertumbuhan mulai dari berat badan, panjang badan serta lingkar kepala bayi. Semua alat yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan juga memiliki standar nasional.

Alokasi alat ukur tidak hanya diberikan pada tingkat kecamatan saja, tetapi juga menyasar ke posyandu di desa.

"Nanti diberi bantuan alat dari Kementerian Kesehatan untuk mengukur dan menimbang badan bayi, juga panjangnya. Karena itu mohon nanti, saya belum cek dari Kementerian Kesehatan sudah berapa kesiapannya untuk setiap posyandu nanti,” ucap Muhadjir.

Selain alat ukur tumbuh kembang bayi, Muhadjir juga mendorong setiap posyandu memiliki USG agar semua potensi buruk yang tidak diinginkan dapat diintervensi dan ditangani oleh tenaga medis seperti bidan atau perawat puskesmas sejak anak berada di dalam kandungan.

"Kementerian Kesehatan juga akan memberikan bantuan setiap puskesmas itu disiapkan USG. Jadi nanti kalau mau periksa, tidak perlu ke poliklinik, tapi cukup di puskesmas," ujar Menko PMK.

Dalam kesempatan itu Muhadjir meminta setiap tenaga kesehatan memaksimalkan penggunaan alat-alat yang akan diberikan serta memantau dengan cermat tumbuh kembang bayi mulai dari besar diameter kepala hingga melakukan pemeriksaan apakah anak memiliki potensi lahir dalam keadaan stunting.

"Kalau sudah menjadi bayi, tidak bisa didikte. Tapi ibunya masih bisa untuk diberi intervensi, jadi kita  targetkan seluruh puskesmas punya USG, alat untuk memantau janin,” kata dia.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan masih terdapat perbedaan hasil antara data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) dengan elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis masyarakat (e-PPGBM).

"e-PPGBM atau data dari posyandu yang dibawa ke puskesmas dan dinas kesehatan sumbernya adalah hasil pengukuran tinggi badan, berat badan secara rutin, setiap bulan. Oleh karena itu, dengan Pak Menko PMK yang memberikan dukungan, alat ukur ini ada di setiap posyandu ini akan sangat membantu,” kata dia.

Hasto berharap dengan diberikannya alat ukur kepada seluruh posyandu di Indonesia, semua data pertumbuhan bayi di Indonesia dapat sukses dikumpulkan dan menghasilkan satu data yang sama.

"Kami juga berjanji nanti di tahun ini, kami bersama arahan Pak Menko juga untuk mengawal SSGI yang dikerjakan di tahun 2022 ini sampelnya akan lebih banyak lagi, sehingga akhirnya insyaallah tidak banyak berbeda dengan e-PPGBM,” ujar dia.

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti

Editor : Riza Mulyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2022