Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi termotivasi menjadi Pangdam I/BB karena faktor ibunya. Di mana, saat itu ibunya mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari pembantu yang ada di rumah Pangdam I/BB.

Edy menceritakan hal itu dalam sambutan di acara hari ibu yang dilaksanakan di rumah Dinas Gubernur Sumut Jalan Sudirman Medan, Selasa (21/12). Cerita itu berawal saat Edy diminta untuk mengantarkan kue dagangan ke rumah dinas Pangdam.

"Saya pernah dipanggil ibu saya untuk mengantar kue pesanan ibu Pangdam. Saya SMP kelas tiga itu. Masuk, diambil ke dalam rumah," kata Edy.

Baca juga: Partai Gerindra dorong Pemprov Sumut terbitkan pergub untuk lindungi petani

Setelah kue dibawa masuk ke dalam rumah oleh pembantu, kata Edy, dia beserta ibunya menunggu di samping rumah. Mereka harus lama di lokasi itu untuk menunggu keranjang tempat kue dikembalikan oleh pembantu.

"Saya tanya, kenapa disini bu? Lama sekali mengantar kuenya, kata ibu saya. Udah lah nanti kita beli lagi," ucap Edy.

Edy mengatakan ibunya tidak mau pergi dari lokasi itu sebelum keranjangnya dikembalikan. Keranjang itu disebut Edy sebagai keranjang kesayangan ibunya.

"Mama saya dianiaya, sekian lama menunggu. Saya langsung berdoa, ya Allah jadikan saya Pangdam," ujarnya.

Singkat cerita, Edy kemudian menjadi Pangdam I/BB. Setelah menjadi Pangdam, Edy mengaku langsung menemui pembantu di rumah dinasnya.

"Tahun 2014-2015 saya jadi Pangdam. Hari ini saya dilantik, besoknya saya datangi pembantu di rumah itu. Kenapa Saya jadi Pangdam, kata saya ke pembantu. Karena kalian. Ibu ibu pembantu itu bingung semua," tuturnya.

Tak hanya soal pembantu Pangdam, Edy menyebut dendam ke mantan Dandim Medan juga membuat dirinya termotivasi menjadi Pangdam.  Edy  mengatakan dia kesal karena mantan Dandim saat itu memanggil ayahnya dengan nama sembarangan.

"Bapak saya dipanggil Dandim saat itu, dul dul gitu. Saya SMA itu kelas II. Jadi Saya dendam," ucap Edy.

Setelah menjadi Brigjen, Edy mengatakan bertemu dengan mantan Dandim yang memanggil ayahnya itu. Edy mengaku menyampaikan keberatan karena ayahnya dipanggil seperti itu.

"Waktu saya Brigjen, dia kolonel sudah mau pensiun. Saya bilang sama dia, abang pernah manggil bapak saya dul. Dian nanyak yang mana bapak mu," jelasnya.

Dalam kesempatan itu sebagai seorang suami dirinya mengaku kerap kepada istri untuk menutupi kekurangan.

Laki-laki, menurutnya berpikir dengan akal. Sedangkan perempuan menggunakan perasaan. "Tak akan pernah ketemu itu, makanya kita kan sering berkelahi," sebut Edy.

Tentang berkelahi, Edy Rahmayadi punya cerit dengan istrinya. Ia mengatakan paling lama akrab dengan istri hanya 30 menit. 

"Makanya saya kalau udah jumpa, saya hitung itu, 29 menit ah saya keluar itu. Kalau nambah satu menit oh berkelahi itu, ada saja celah yang dijadikan, yang satu pakai perasaan, satu lagi pakai rasio," tuturnya.

Pewarta: Andika Syahputra

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2021