Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi terkoreksi pasca The Fed memajukan proyeksi kenaikan suku bunga acuan.

Pada pukul 9.24 WIB, rupiah melemah 92 poin atau 0,65 persen ke posisi Rp14.330 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.238 per dolar AS.

"Nilai tukar rupiah bisa tertekan lagi terhadap dolar AS karena sikap bank sentral AS dini hari tadi. Dolar AS dan yield obligasi Bank Sentral AS menguat karena hal tersebut," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra di Jakarta, Kamis.



The Fed mempercepat proyeksi kenaikan tingkat suku bunga acuan The Fed yang terlihat berpotensi naik 50 basis poin pada 2023. Padahal sebelumnya The Fed memperkirakan baru akan terjadi kenaikan pada 2024.

The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi AS pada 2021 menjadi 3,1 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya 2,2 persen, berdasarkan indikator Core PCE Inflation.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya saat ini berada di level 91,339, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yaitu di posisi 91,129.



Sedangkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun saat ini berada di level 1,57 persen, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya 1,569 persen.

Dari dalam negeri, lanjut Ariston, kenaikan kasus COVID-19 belakangan ini masih berpotensi menjadi momok yang menekan rupiah.

"Hari ini Bank Indonesia akan merilis hasil rapat kebijakan moneternya, yang kemungkinan akan tetap mempertahankan tingkat suku bunganya untuk mengimbangi potensi tapering dari The Fed," ujar Ariston.

Ariston mengatakan rupiah hari ini berpotensi melemah ke kisaran Rp14.270 per dolar AS dengan potensi menguat di kisaran Rp14.200 per dolar AS.

Pada Rabu (16/6) lalu, rupiah ditutup melemah 13 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp14.238 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.225 per dolar AS.
 

Pewarta: Citro Atmoko

Editor : Akung


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2021