Sembilan warga Nagari Ranah Pantai Cermin, Kecamatan Sangir Batanghari, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, tertimbun galian pada Sabtu petang (18/4). Lokasi itu merupakan lokasi penambangan emas peninggalan zaman penjajahan Belanda.

Kepala Kepolisian Resor Solok Selatan, AKBP Imam Yulisdianto, menyatakan, "Informasi yang kami peroleh itu bekas tambang peninggalan di zaman Belanda. Jadi mereka mencari emas dengan mendulang atau tradisional di lokasi tersebut." Ia ditemui usai meninjau lokasi tertimbunnya sembilan warga Ranah Pantai Cermin tersebut di Jorong Talakiak, Nagari Ranah Pantai Cermin, Minggu.

Saat memindahkan korban yang dilakukan hingga Minggu dini hari, sebutnya, tidak ditemukan alat berat yang digunakan untuk menambang emas. Pemindahan korban juga dilakukan dengan cara manual, tanpa alat berat.

Baca juga: Sembilan warga Solok Selatan tewas tertimbun di lokasi tambang emas ilegal

Saat kejadian, sebutnya, 12 orang yang tengah mendulang emas. Tiga orang mendulang di bagian luar, sementara sembilan orang yang menjadi korban mendulang di bagian dalam lubang. "Tiga orang yang selamat tersebut yang memberikan informasi dan melakukan evakuasi awal," ujarnya.

Polisi kini tengah melakukan olah tempat kejadian peristiwa (TKP) yang berjarak sekitar empat sampai lima kilometer jalan utama dengan kondisi jalan perbukitan.

Pelaksana Tugas Bupati Solok Selatan, Abdul Rahman, menyebutkan di Nagari Ranah Pantai Cermin itu banyak lokasi penambangan emas peninggalan zaman Belanda.

Baca juga: Lilin jatuh, tersiram pertalite, kedai sembako di Saribu Dolok hangus terbakar

Baca juga: Lagi asyik meracik sabu, seorang petani ditangkap Polisi Besitang Langkat

"Pandemi Covid-19 ini saat mempengaruhi ekonomi masyarakat. Masyarakat Sangir Batanghari ini sebagai besar petani komoditas ekspor seperti sawit, pinang, karet yang harganya saat ini anjlok. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka menambang secara tradisional di Jorong Talakiak yang terdapat banyak bekas tambang emas Belanda," katanya.

Ia memastikan penambangan yang dilakukan para korban yang tertimbun itu memakai cara tradisional, karena dari sembilan korban tersebut satu di antaranya perempuan yang ikut mendulang. "Kalau memang menggunakan alat berat gak mungkin ada perempuan di dalam (lubang tambang)," ujarnya.

Ia menyebutkan, warga yang tertimbun tersebut masih memiliki talian kekerabatan.
 

Pewarta: Miko Elfisha/Joko Nugroho

Editor : Riza Mulyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2020