Aktivitas sekelompok remaja yang tidak ingin terikat aturan perlu mendapat perhatian berbagai pihak.

Pasalnya, komunitas remaja yang oleh sebagian warga disebut sebagai kelompok "Sporlap" tersebut kerap mengakibatkan dampak negatif.

Salah seorang di antaranya adalah siswi SMPN 1 Na IX-X. Akibat terpengaruh komunitas remaja itu, siswi yang duduk di kelas X tersebut tidak mau ikut ujian nasional berbasis komputer.

“Ada dua dari 165 siswa peserta UNBK yang tidak mengikuti ujian. Keduanya perempuan,” kata kepala SMPN 1 Na IX-X, Juliana Marpaung kepada Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Labuhanbatu Utara Ahmad Ardiansyah Harahap yang melakukan monitoring UNBK, Selasa.

Menurut Juliana, siswinya tersebut terpengaruh oleh sebuah komunitas remaja. “Dia terpengaruh oleh kelompok anak muda yang suka menyetop-nyetop dan menumpang truk,” jelasnya merujuk kelompok remaja yang belakangan semakin marak di kabupaten itu.

Padahal, pihaknya sudah membujuk orang tua siswi tersebut agar anaknya mau mengikuti UN. “Kami sudah bilang sama orang tuanya, paling tidak siaplah ujian ini,” tambahnya.

Namun ia menyayangkan, pihak orang tuanya kurang respons dengan imbauan yang diberikan. “Kita dari pihak sekolah sudah berusaha membujuk agar anak tersebut mau ikut ujian,” ujarnya.

Sementara di SMPN 1 Aeknatas, dari 225 siswa seluruhnya mengikuti UNBK. Demikian juga dengan SMPN 1 Marbau yang seluruh 157 siswanya mengikuti UNBK.

Wakil Kepala SMPN 1 Aeknatas (baju coklat) saat memberi penjelasan terkait pelaksanaan UNBK yang berlangsung di sekolahnya kepada tim monitoring KPAD Labura, Selasa. (Antara Sumut/Sukardi)

 

Namun para pimpinan di tiga sekolah negeri itu mengaku untuk pelaksanaan UNBK pihaknya terpaksa meminjam komputer dari pihak lain. Sebab fasilitas yang ada di sekolah belum mencukupi. Di ketiga sekolah itu, UNBK dilaksanakan tiga gelombang setiap harinya..

Pewarta: Sukardi

Editor : Riza Mulyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2019