Rantauprapat (Antaranews Sumut) - Masyarakat daerah Pantai Timur Sumatera mengapresiasi debat calon Presiden putaran kedua yang menyinggung sektor kelapa sawit untuk perekonomian masyarakat.

"Kami sangat senang karena pak Joko Widodo dan Prabowo Subianto membahas sektor sawit di daerah," ujar Sholawat Mangaraja Lubis warga daerah Pantai Timur Sumatera, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Senin (18/2).

Dalam materi debat energi, kedaulatan pangan, insfrastruktur, dan pengelolaan sumber daya alam itu berkaitan erat dengan sektor perkebunan kelapa sawit.

Hal ini juga diperkuat dengan mayoritas perekonomian hilir masyarakat Pantai Timur Sumatera, khususnya Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan dari hasil perkebunan.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Labuhanbatu yang di rilis Nopember 2018 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada tahun 2017 yang diukur berdasarkan kenaikan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2010, yaitu sebesar 5,09 persen. 

Pada tahun 2017, lapangan usaha industri pengolahan mendominasi struktur PDRB Kabupaten Labuhanbatu Selatan, yakni sebesar 43,44 persen, diikuti oleh lapangan usaha pertanian, kehutan dan perikanan, yakni sebesar 27,26 persen.

Pada tahun 2017 angka PDRB per kapita Kabupaten Labuhanbatu Selatan mencapai Rp70,97 juta dengan laju peningkatan sebesar 8,26 persen dibandingkan dengan PDRB per kapita tahun 2016 yang mencapai Rp65,55 juta.

Sholawat menjelaskan, debat putaran kedua ini mengambarkan secara garis besar gagasan Capres akan menambah elektabilitas dan popularitas mereka di daerah.

Sebagai warga asli Kabupaten Labuhanbatu Selatan, pembahasan sektor sawit, konflik sosial atau sengketa lahan hingga kerusakan lingkungan menjadi perhatian serius di daerahnya.

Capres nomer urut 01 menyampaikan fokus pemerintah melanjutkan program B20 hingga ke B100, dengan harapan total produksi sawit sekira 46 ton setiap tahunnya.

Sedangkan Capres nomer urut 02 menilai pola perkebunan inti rakyat (PIR) kelapa sawit harus di ubah dengan meningkatkan perkebunan plasma atau lahan yang di kelola masyarakat.

"Pembahasan debat disektor sawit tadi malam juga sangat penting, karena menyangkut perekonomian masyarakat bawah disini," ujar Sholawat.

Sementara, seorang petani sawit Kabupaten Labuhanbatu, Abdul Gani Hutabarat di Rantauprapat mengatakan, harga tandan buah segar lokal merangkak naik yakni Rp1030 per kilogram, namun patani swadaya masih terbebani harga beli dari pabrik kelapa sawit di daerah.

Harga itu juga sempat anjlok dikisaran harga Rp800 per kilogramnya dalam beberapa bulan terakhir. "Harga TBS saat ini sedikit naik," katanya.

Ia menyampaikan, debat Capres putaran kedua ini diharapkan menjadi solusi harga sawit lokal sehingga mempengaruhi perekonomian masyarakat.

Pewarta: Kurnia Hamdani

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2019