Ankara (Antaranews Sumut) - Penolakan Arab Saudi untuk mengekstradisi para tersangka pembunuh wartawan Jamal Khashoggi "sangat mengecewakan", kata direktur komunikasi presiden Turki pada Senin (10/12).

Di dalam satu pernyataan kepada Reuters, Fahrettin Altun kembali menyampaikan seruan bagi penyelidikan internasional mengenai kasus wartawan yang dibunuh itu, dan mengatakan, "Dunia mesti mengupayakan keadilan bagi kasus ini berdasarkan hukum internasional." "Itu akan menjadi kepentingan terbaik masyarakat internasional untuk mengupayakan keadilan buat mendiang wartawan Arab Saudi," kata Altun sebagaimana dikutip laporan media.

Menolak pengekstradisian tersangka pembunuh hanya akan menguntungkan mereka "yang percaya Arab Saudi telah berusaha menutupi pembunuhan itu", ia menambahkan.

Banyak pihak memhamami bahwa konsul-jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki, juga terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi, kata Altun, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi.

Pada Ahad (9/12), Arab Saudi mengesampingkan pengekstradisian para tersangka dalam kasus Jamal Khashoggi ke Turki, kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir.

"Kami tidak mengekstradisi warga negara kami," kata Al-Jubeir dalam taklimat di sisi pertemuan ke-39 Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), ketika ia ditanya mengenai surat perintah penangkapan.

Satu pengadilan Istanbul pada Rabu mengeluarkan surat penangkapan buat dua mantan pejabat Arab Saudi sehubungan dengan pembunuhan Khashoggi.

Al-Jubeir mengatakan mereka yang bersalah telah diserahkan ke Kantor Kejaksaan Arab Saudi tapi ia tidak mengomentari proses hukum dan menegaskan bahwa kantor jaksa memiliki juru bicaranya sendiri.

Khashoggi, seorang wartawan Arab Saudi dan kolumnis untuk The Washington Post, hilang setelah ia memasuki Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada awal Oktober.

Setelah mulanya mengatakan ia telah meninggalkan Konsulat Arab Saudi dalam keadaan hidup, Arab Saudi beberapa pekan kemudian mengakui bahwa ia terbunuh di sana, dan menyalahkan sekelompok agen merah Arab Saudi sebagai pelaku pembunuhan.

Setelah dikeluarkannya dekrit kerajaan, Arab saudi memecat lima pejabat senior, termasuk Saud Al-Qahtani, pembantu senior putra mahkota, dan Ahmed Al-Asiri --mantan wakil kepala intelijen-- karena dugaan keterlibatan mereka dalam pembununan tersebut.

Pewarta: Antara/Anadolu-OANA

Editor : Akung


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2018