Tapteng (Antaranews Sumut)- Rudi Lumbantoruan, (39) yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Perairan Karawang Senin pagi duduk di seat nomor 29 F. Hal itu diketahui berdasarkan tiket yang dikirimkan Rudi kepada istrinya melalui pesan WA sebelum terbang dari Bandara Soekarno Hatta. Bahkan sebelum lepas landas, Rudi masih sempat video call dengan isterinya sembari menayakan kabar kedua buah hatinya yang tinggal bersama isterinya di Namira, Kelurahan Pandan Wangi, Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Ayah Rudi Ompung Kwinsa, (64) menceritakan, bahwa anaknya bulan Desember tahun ini akan pindah tugas ke Kabupaten Tapanuli Tengah dari Bangka Belitung, karena group perusahaan tempat Rudi bekerja ada juga di Tapteng.

“Dulunya dia (Rudi) kerja di PT CPA yang berada di Kecamatan Hutabalang Kabupaten Tapanuli Tengah. Jabatannya sebagai Askep"terangnya.

Setelah dua tahun bekerja di sana, dipindahankan ke kantor cabang CPA di Rantau Prapat. Dua tahun bekerja di Rantau Prapat dipindahkan ke Bangka Belitung untuk menduduki jabatan Manager.

Dan ketika rapat di Medan minggu lalu, perpindahan Rudi sudah disetujui pimpinannya untuk pindah ke Tapteng, dan sudah disampaikan kepada kami bahwa ia akan kerja di PT CPA bulan Desember ini.

"Namun inilah kenyataan yang harus kami terima Rudi harus mengalami nasib seperti ini,”katanya Ompung Kwinsa sembari mengusap air matanya.

Rudi adalah anak pertama dari empat bersaduara. Ia lulusan dari Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 2003 jurusan Pertanian. Rudi dikaruniai sepasang anak berusia 7 tahun dan 9 tahun. Keduanya masih duduk di bangku SD.

Rudi meninggaIkan satu orang istri atas nama Dewi Manik yang bekerja sebagai guru  di SMPN Lumut, Kecamatan Lumut Kabupaten Tapanuli Tengah.

Sebelum Rudi meninggalkan kediaman orangtuanya di Gang Saroha, Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Rudi masih sempat membawa kedua anaknya serta keponakan dan keluarganya mandi ke air terjun Aloban di Kecamatan Tapian Nauli.

“Pas hari Sabtu itu, Rudi memaksa kita semua untuk ikut mandi ke pemandian Aloban. Ia rindu sekali katanya untuk melihat Aloban karena sudah lama ia tidak melihat pemandian itu. Karena sudah dipaksa, akhirnya semua keluarga berangkat. Dan malam harinya Rudi tidak banyak cerita, mungkin karena mati lampu malam itu atau kecapean mandi-mandi. Itulah yang kami saksikan dari Rudi terakhir kali,”kata adik ipar Rudi.

Baca juga: Satu korban Lion Air yang jatuh warga Tapteng
Awalnya yang mengetahui berita kecelakaan pesawat Lion Air ini adalah adik ipar Rudi.

Setelah mendapat info itu, ia pun memastikan kepada keluarganya termasuk kepada istri Rudi kapan Rudi terbang. Setelah dicek, dipastikan Rudi ikut dalam pesawat naas itu.
  Boarding Pas Rudi (Antara/Jason)

Doa kami kiranya ada muzijat, kalaupun harus meninggal agar jenazahnya bisa diketemukan dan dibawa ke rumah kami ini,”harap orangtua Rudi.

Pewarta: Jason Gultom

Editor : Akung


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2018