Taput (Antaranews Sumut) - Tokoh masyarakat Silangit, Pongat Simanjuntak mengungkapkan, penolakan masyarakat atas pergantian nama bandara Silangit didasari atas nama keramat Silangit yang dinilai sebagai tanda keselamatan tubuh dan jiwa.

Penuturan Pongat, Silangit yang berasal dari satu ungkapan kata dalam bahasa batak, yakni 'Silang di langit' disingkat Silangit memiliki terjemahan 'Salib di langit', yang dimaknai sebagai simbol keselamatan. 

"Muasal kata Silangit lahir sebagai ungkapan keselamatan tubuh dan jiwa saat menyikapi sisa kepedihan di masa penjajahan Belanda yang dicetuskan para orang tua kami terdahulu," terang Pongat Simanjuntak, Sabtu.

Saat masa penjajahan, kata dia, telah menimbulkan banyak korban nyawa dari keturunan klan 'Sibagot ni Pohan' yang mendiami kawasan tersebut.

"Saat anak bertanya keberadaan ayahnya pada setiap ibundanya, jawabnya sudah pasti 'Silang di langit i amang inang haporusan' (Salib di langit itulah Nak keselamatan)," sebutnya.

Jawaban dari sang ibunda merupakan wujud kepasrahan kepada Tuhan demi keselamatan jiwa setiap suami, ayah, dan pejuang lainnya yang pada saat itu diduga tewas di tangan penjajah tanpa diketahui keberadaan jasadnya.

Semangat ungkapan keselamatan jiwa tersebut akhirnya disepakati bersama oleh keturunan 'Sibagot ni Pohan' yang terdiri dari 12 marga, yakni Tampubolon, Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Panjaitan, Silitonga, Siagian, Sianipar, Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, dan Pardede, untuk diresmikan sebagai nama kawasan yang saat ini menjadi lokasi keberadaan bandara. 

"Itulah alasan bagi keturunan 'Sibagot ni Pohan' untuk meresmikan nama kawasan tersebut menjadi Silangit dengan keberadaan sebuah sumur pertanda sumber air bersih pembasuh duka setiap ibu yang ditinggal mati suaminya," jelasnya.


Baca juga :Panitia berlakukan sensor sidik jari peserta MTQN

Baca Juga : Kapolda Sumut: penggali kubur merupakan tugas mulia

Semangat penamaan Silangit demi keselamatan yang dicetuskan para pendahulunya, menurut Pongat, juga telah menginspirasi masyarakat setempat untuk mendukung semangat pembangunan hingga warga keturunan 'Sibagot ni Pohan' ringan tangan menghibahkan lahan demi keberadaan bandara.

"Namun, bila nama bandara diganti. Hal itu telah menghianati nilai semangat yang selama ini ada. Makanya, kami menolak pergantian ini dan akan bertindak tegas untuk menyikapinya," tukasnya.

Pewarta: Rinto Aritonang

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2018