Madina (ANTARA) - Badan Nasional Narkotika (BNN) menargetkan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, menjadi wilayah bebas narkoba dalam lima tahun melalui program Ketahanan Resiliensi Desa/Kelurahan berbasis Grand Design Alternatif Development (GDAD).

Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN melalui Direktur Alternatif Development Brigjen Pol. Edy Swasono mengatakan, keberhasilan program diukur melalui Indeks GDAD atau Indeks Kerawanan Narkotika yang saat ini memasuki tahun kedua pelaksanaan.

“Pada tahun kelima, targetnya status kerawanan wilayah dapat turun dari zona bahaya menjadi waspada hingga akhirnya mencapai kategori aman,” ujar Edy di sela kunjungannya ke Madina, Selasa (9/6).

Ia menyebutkan, berdasarkan data BNN, pengalihan satu orang penanam ganja atau tanaman terlarang dapat menyelamatkan sekitar 400.000 orang dari potensi penyalahgunaan narkotika serta menghemat biaya rehabilitasi hingga Rp1,2 triliun.

Sementara itu, Bupati Mandailing Natal Saipullah Nasution menjelaskan, program GDAD difokuskan pada pembangunan kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan sektor kerajinan.

Salah satu program yang dijalankan adalah produksi tusuk sate dan berbagai kerajinan lainnya yang hasilnya akan ditampung oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Masyarakat cukup fokus pada produksi, sementara BUMDes akan membeli dan memasarkan ke daerah yang membutuhkan sehingga tidak ada kekhawatiran terkait pasar,” kata Saipullah.

Ke depan, program tersebut juga akan diperluas ke sektor perkebunan seperti kopi dan tembakau guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Madina menyambut baik inisiatif BNN karena dapat membantu meringankan beban anggaran daerah sekaligus menekan angka penyalahgunaan narkotika.

Program GDAD dilaksanakan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) VIII yang menyediakan mesin produksi tusuk sate dan bibit tanaman.



Pewarta: Holik
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026