Medan (ANTARA) - Sejarah tak hanya tersimpan dalam lembaran buku yang kusam di perpustakaan. Ia hidup dalam ingatan kolektif dan tradisi yang terus dijaga turun-temurun. Bagi masyarakat Gonting Saga, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatra Utara, sejarah itu bermanifestasi setiap tahun melalui Hari Gembira Aidil Fitri atau yang akrab disebut Hagaf.
Tahun 2026 ini, Hagaf genap berusia 67 tahun. Bukan sekadar perayaan rutin, melainkan tonggak sebuah tradisi yang lahir dari rahim musyawarah para tetua kampung pada tahun 1959. Ada momentum penting yang layak dicatat pada gelaran Hagaf ke-67 tahun ini.
Hadirnya Universitas Negeri Medan (Unimed) di tengah-tengah masyarakat. Langkah Unimed memberikan dukungan penuh pada Festival Seni Bordah menjadi pengakuan intelektual bahwa budaya lokal Labuhanbatu Utara memiliki nilai intrinsik yang tinggi.
Bordah bukan sekadar kesenian tepuk rebana dan puji-pujian. Ia adalah identitas masyarakat Kualuh. *Dengan total hadiah 15 Juta serta penghargaan, sekaligus memperebutkan piala bergilir Bupati Labuhanbatu Utara*, Unimed, *melalui skema Pengabdian Kepada Masyarakat yang di ketuai Dr. Tappil Rambe, M.Si.*, secara tidak langsung telah menaikkan level "marwah" kesenian tradisional tersebut.
Partisipasi lima grup dari Kualuh Ledong, Kualuh Hilir, hingga Kualuh Selatan membuktikan bahwa gairah berbudaya masih menyala, selama ada ruang dan apresiasi yang memadai.
Hagaf tidak pernah hanya tentang panggung hiburan. Perhelatan selama empat hari ini adalah laboratorium sosial yang luar biasa. Pinggiran Sungai Kualuh berubah menjadi pasar rakyat yang dinamis. Di sana, UMKM lokal tumbuh—mulai dari pedagang kuliner khas hingga jasa transportasi sampan mesin.
Secara filosofis, Hagaf menjalankan fungsi sebagai "magnet kepulangan". Sejak 1959, tujuan utamanya adalah memanggil pulang putra-putri daerah dari perantauan. Di tengah arus urbanisasi yang masif, Hagaf menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, ada kata "pulang" yang harus dituju untuk merajut silaturahmi.
Pemerhati Hagaf, Yamin Simatupang menyampaikan "Dahulu, Hagaf dikelola dengan kemandirian penuh, di mana semangat gotong royong melampaui sekat status ekonomi. Hari ini, tantangannya adalah modernisasi yang cenderung membuat generasi muda kehilangan jati diri daerahnya.
Agenda seperti penobatan Pangeran dan Ratu Hagaf, lomba renang di sungai, hingga pelestarian kuliner Anyang Ayam dan Gulai Asam Ikan Baung bukan sekadar hiburan. Ini adalah cara kita memperkenalkan kekayaan lokal kepada generasi alfa. Kita tidak ingin anak cucu kita lebih mengenal budaya luar daripada dentuman Bordah atau aliran tenang Sungai Kualuh yang telah menghidupi nenek moyang mereka."
Ia pun melanjutkan, "Harapan masyarakat sederhana namun mendalam, Hagaf harus terus berevolusi tanpa kehilangan ruhnya. Dukungan institusi pendidikan seperti Unimed diharapkan menjadi pemicu bagi pihak lain untuk turut serta menjaga warisan ini. Kita ingin Hagaf tetap menjadi panggung bagi minat dan bakat, menjadi media pembelajaran kepemimpinan bagi pemuda, dan yang terpenting, menjadi benteng terakhir kebudayaan Kualuh. Jangan sampai identitas kita hilang ditelan arus zaman," ujar Yamin.
Selanjutnya Mewakili Unimed, Wakil Rektor I Dr. Abil Mansyur, M.Si menyampaikan "Universitas Negeri Medan merasa bangga dapat menjadi bagian dari perhelatan Hagaf ke-67 di Gonting Saga. Kehadiran kami melalui dukungan pada Festival Seni Bordah merupakan bentuk pengakuan intelektual terhadap kekayaan budaya lokal Kualuh yang luar biasa.
Unimed berkomitmen memastikan warisan leluhur ini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi tetap relevan bagi generasi muda. Semoga sinergi antara akademisi dan masyarakat ini terus meningkatkan marwah kesenian tradisional serta menjadi benteng kokoh identitas daerah di tengah modernisasi.
Pewarta: JuraidiEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026