"Faktor eksternal menjadi salah satu faktor yang membuat mata uang rupiah mengalami apresiasi terhadap dolar AS," ujar Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong di Jakarta, Jumat.
Ia mengemukakan sejak Ketua the Fed Jerome Powell menyatakan suku bunga berada sedikit di bawah netral, maka kenaikan suku bunga tidak akan agresif.
"Sikap 'dovish' itu membuat dolar AS tertekan terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah," katanya.
Selain itu, lanjut dia, harga minyak mentah dunia yang relatif rendah juga turut membantu apresiasi mata uang rupiah.
"Harga minyak mentah dunia yang rendah akan membantu kinerja neraca perdagangan," katanya.
Ia menambahkan optimisme pemerintah terhadap perekonomian Indonesia yang masih akan terus tumbuh turut menjadi faktor yang menopang mata uang rupiah.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini (30/11), tercatat mata uang rupiah menguat menjadi Rp14.339 dibanding sebelumnya (29/11) di posisi Rp14.408 per dolar AS.
Pewarta: AntaraEditor : Akung
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.