"Pertanaman padi yang mengalami puso itu diakibatkan banjir yang merendam tanaman padi petani Langkat," kata Kordinator Pengamat Organisme Pengganggu Hama Tanaman Dinas Pertanian Langkat Miswandi di Stabat, Senin.
Menurut Miswandi, dari pertanaman padi yang ada di tujuh kecamatan itu ada seluas 1.854,1 hektare, sebanyak 899 hektare diantaranya mengalami puso dan tidak bisa dipanen oleh petani.
"Kita belum tahu berapa ton produksi padi yang seharusnya bisa dipanen oleh petani dengan lahan seluas 899 hektare yang mengalami puso itu," katanya.
Adapun tanaman padi yang terkena puso itu antara lain di Kecamatan Sei Lepan 58 hektare, Kecamatan Hinai 619 hektare, Kecamatan Stabat 73 hektare, Kecamatan Secanggang 42 hektare, dan Kecamatan Tanjungpura 107 hektare.
Sedangkan varietas padi yang mengalami puso itu seperti jenis lokal, ciherang, mikongga, dan inpari 3.
"Ini berdasarkan pendataan tim yang sudah kita terjunkan ke lapangan setelah banjir usai di akhir September 2016 itu," katanya.
Ia menambahkan, selain tanaman padi yang mengalami puso, ada juga beberapa tanaman palawija mau pun holtikultura yang mengalami puso seperti kacang panjang 1,8 hektare di Kecamatan Padang Tualang, Kecamatan Hinai 1,4 hektare, dan di Kecamatan Stabat dua hektare.
Terdapat juga tanaman ketimun seluas 0,9 hektare di Kecamatan Padang Tualang, 0,7 hektare di Kecamatan Hinai, satu hektare di Kecamatan Stabat.
Kemudian, tanaman terong seluas 0,5 hektare di Kecamatan Padang Tualang, cabai seluas 1,6 hektare di Kecamatan Padang Tualang, 0,7 hektare di Kecamatan Hinai, satu hektare di Kecamatan Stabat, dan tanaman pepaya kalifornia usia 20-60 hari di Kecamatan Stabat seluas dua hektare.
Pewarta: Imam FauziEditor : Ribut Priadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.