"Hal tersebut langkah agar supaya masyarakat petani condong menggunakan pupuk organik," kata Mhd.Taufik Batubara, SP, Kasi Lahan dan Perluasan Areal pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tapanuli Selatan kepada Antara, Minggu.
Luas areal Demplot 0,5 hektare pada setiap kecamatan itu akan menjadi 'tanggungjawab' Distributor atau pihak ketiga penyalur pupuk Tapsel yakni PT.Pertani, PT Romasi dan GCS.
Komisi pengawasan pupuk pestisida (KP3) antara lainnya Dinas Pertanian, Perindag dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Selatan cukup menyambut positif apa yang dilakukan pihak ketiga.
"Langkah distributor merupakan bagian operasi khusus peningkatan produktivitas pertanian di Tapsel dalam rangka menjaga swasembada beras sekaligus mendukung ketahanan pangan," kata Taufik.
Sejauh ini, lanjutnya, KP3 dan distributor pupuk merasa 'prihatin' atas rendah dan minimnnya penyerapan pupuk organik (kompos) di masyarakat petani Tapanuli Selatan khusus (Januari-Agustus) tahun 2016.
Tercatat, penyaluran pupuk bersubsidi tahun 2016 ada target untuk jenis pupuk organik sebanyak 523 ton, sementara baru terealisasi 170,96 ton dengan persentase 32,69 persen.
"Lemahnya penyerapan pupuk organik itulah memaksa pihak ketika bergerak membuat demplot penggunaan pupuk organik di 14 kecamatan se-Tapsel," terangnya.
Selama ini, Petani Tapanuli Selama ini masih lebih condong menggunakan jenis pupuk an-organik seperti urea, superphos/SP-36, ZA dan ponska/NPK pada areal pertaniannya.
Penyebabnya, kata Taufik rendahnya kondisi ekonomi petani untuk menebus pupuk organik sesuai RDKK (rencana defenitif kebutuhan kelompok) masing masing petani.
Disamping itu imbuhnya, pengaruh pemikiran 'instan' petani, yang 'memaksa' dengan menggunakan an-organik demi memetik hasil yang cepat meski belum tentu maksimal, penting bisa cepat dinikmati.
Padahal, ujar Taufik, jangka panjang manfaat lahan menggunakan organik (kompos) dapat meningkatkan kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Meningkatkan produktivitas tanaman, menyuburkan tanah.
"Kelompok tani Batang Angkola sudah mengaplikasikan perbandingan penggunaan pupuk organik dan an-organik di kecamatan Batang Angkola," ungkap Taufik.
Dengan metode sri per hektare menggunakan pupuk organik bisa menghasilkan panen padi seberat 9,8 ton/hektare dibanding metode konvensional menggunakan an-organik cuma 5,8 - 6 ton hasil dengan luasan areal yang sama.
"Kita berharap apa yang diperbuat pihak distributor pupuk menjadi motivasi bagi petani untuk gencar menggunakan pupuk organik di Tapanuli Selatan,"ujar Taufik.
Lebih dari itu, langkah KP3 dan ditributor akan merealokasi pupuk dari kecamatan yang rendah penyerapannya ke kecamatan yang penyerapannya tinggi.
"Tindakan realokasi antar kecamatan di Tapanuli Selatan guna mengantisipasi agar pupuk organik tidak di realokasi ke kabupaten/kota lain di Sumut," kata Taufik
Pewarta: Kodir PohanEditor : Akung
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.