Selain jauh dari pusat ibukota kecamatan para warga yang berpenduduk 24 Kepala Keluarga tersebut juga belum dapat menikmati fasilitas-fasilitas infrastruktur, baik pendidikan maupun kesehatan.
Yang paling menyedihkan jikalau para warga sakit para warga hanya berobat ke dukun dengan menggunakan daun-daunan sebagai obatnya.
Hingga saat ini kondisi jalanuntuk menuju desa yang sudah ada sejak zaman Belanda ini sangat mengkhawatirkan.
“Dengan melewati jalan setapak , sekitar 6 jam perjalananlah jika berjalan kaki menuju desa kami,†ujar Sahrin Nasution warga desa setempat kepada ANTARA, Rabu.
Sahrin menyebutkan, sejak jalan yang direncanakan nantinya menjadi jalan Lintas Timur Pagur-Hapung ini dibuka hingga sekarang kondisinya porak poranda diakibatkan banyaknya badan jalan yang longsor sehingga mengakibatkan jalan menjadi semakin mengecil.
Akibatnya para warga harus mengeluarkan biaya hidup yang tinggi untuk dapat bertahan hidup ditengah belantara Aek Gorsing.
“Jika hendak mengangkut bahan-bahan pokok seperti beras dan kebutuhan lainnya kami terpaksa mengeluarkan biaya yang tinggi, yakni menggunakan jasa ojek biasanya Rp.100.000 per tripnya itupun kalau tidak hujan, kalau hujan bertambah dua kali lipat lagi†sebut Sahrin.
Begitu juga didalam pengangkutan bahan-bahan yang dibutuhkan didalam pembangunan seperti halnya dengan pembangunan fisik yang bersumber dari Dana Desa seperti sekarang ini. Selain material pasir, batu, dan kerikil didalam pengangkutannya juga harus mengeluarkan biaya yang tinggi.
“Jika harga semen misalnya Rp.65.000.- kami harus mengeluarkan biaya pengangkutan lagi Rp.100.000.- kepada tukang ojek, itupun hanya orang-orang tertentu yang bisa ke sana mengantarkan barang baru sampai dilokasi,†ujarnya
Mengingat selama ini air sungai yang ada didekat desa tersebut sering meluap hingga memasuki pemukiman penduduk ditahun 2016 ini desa tersebut mengalokasikan anggaranDana Desa sebesar Rp.272.000.000.- untuk pembuatan dek bronjong sepanjang 450 meter.
Didalam membangun desa tersebut banyak kendala yang dihadapi para warga selain kondisi medan yang sulit apalagi pada musim penghujan tiba membuat biaya pengangkutan bahan pokok dan bahan bangunan menjadi meningkat dua kali lipat dari semestinya.
“ Atas kondisi inilah kami mengharapkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Mandailing Natal agar sesegera mungkin melanjutkan perbaikan jalan dan melakukan pembukaan jalan baru hingga Hapung Kabupaten Padang Lawas Utara sehingga nantinya desa Aek Nabara terlepas dari keterisoliran,†ujar Ketua Badan Perwakilan Desa.Toguan Hasibuan.
Dengan kondisi yang dialami masyarakat desa Aek Nabara tersebut, Toguan mengkhawatirkan para warga desa yang berdomisili di Aek Gorsing diprediksinya akan meninggalkan desa tersebut.
Pewarta: HolikEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.