Tapanuli Selatan, 17/4 (Antarasumut) - Harga coklat di Tapanuli Selatan umumnya masih bertahan dikisaran Rp 30 ribu perkilonya.
"Bertahannya harga tersebut dapat menambah inkam keluarganya," tutur Ihsan Hasibuan kepada ANATARA Sumut disela-sela memetik buah coklat miliknya.
Menurut warga Desa Pasir Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan ini, Minggu, biji coklat dijual dan dihargai Rp30 ribu ditingkat 'pamuge' alias touke pengumpul langsung di masyarakat.
Dari hasil kebun coklat miliknya 0,5 hektare ayah 3 anak ini bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp15 juta, dengan produksi 500 kilogram pertahunnya dikali nilai rata rata harga biji coklat Rp30 ribu atau sekitar Rp1,2 juta rupiah perbulannya.
"Disamping penghasilan panen sawah, ditambah uang Rp1,2 juta sudah cukup membantu kehidupan rumah tangga termasuk biaya anak bersekolah yang masih duduk di SD dan SMP," sebutnya.
Lebih jauh Ihsan berharap dan berdoa kiranya harga komoditi coklat ini bisa tetap bertahan dan bahkan menaik lagi diatas Rp30 ribu agar kehidupan minimal bisa semakin sejahtera.
"Walau lahan sawah dan kebun terbatas tetapi saya terus berupaya maksimal merawatnya agar hasilnya juga bisa optimal," jelasnya.
Kemudian tambahnya dia memanen (memetik) buah coklatnya satu kali dalam dua minggu, musim buah dua kali setahun. Januari - Mei produksi sedang masuk Juni ke akhir tahun Desember produksi meningkat.
Pewarta: Kodir PohanEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.