"Surplus berasal dari ekspor sebesar 352,831 juta dolar AS dan impor 113,147 juta dolar AS," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Wien Kusdiatmono di Medan, Senin.
Menurut dia, suprlus perdagangan dengan AS itu tercatat terbesar kedua setelah dengan Jepang yang mencapai 240,064 juta dolar AS.
Dia menjelaskan, tahun ini, dari sepuluh negara tujuan utama ekspor Sumut, 50 persennya atau lima negara mengalami surplus dan lima lainnya defisit.
Perdagangan yang surplus itu ke Jepang, AS, Republik Rakyat Tiongkok, Belanda dan india.
"Perdagangan ke lima negara itu bisa surplus karena negara-negara tesebut tercatat sebagai pengimpor komoditas utama Sumut seperti minyak sawit dan karet," katanya.
Sedangkan perdagangan ke Singapura, Thailand, Malaysia, Argentina dan Australia, mengalami defisit.
Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, menyebutkan, meski permintaan melemah dan harga turun, tetapi negara pengimpor tetap saja membeli produk utama Sumut yakni karet dan CPO .
AS, kata dia, sejak dulu juga tercatat masuk dalam kelompok pembeli utama karet Sumut.
"Seandainya harga ekspor karet tidak anjlok seperti dewasa ini, maka surplus perdagangan Sumut-AS bisa lebih besar,"katanya.***2***
(T.E016/B/I.K. Sutika/I.K. Sutika)
Pewarta: Evalisa Siregar:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.