Oleh Imam Fauzi

Langkat, Sumut, 20/3 (Antara) - Seluas 2.164 hektare tanaman padi di Kabupaten Langkat Sumatera Utara, dilanda kekeringan akibat tidak turunnya hujan selama dua bulan terakhir ini sehingga terancam puso.

"Ada 2.164 hektare tanaman padi yang dilanda kekeringan dan terancam puso," kata Koordinator Pengamat Organisme Pengganggu Hama Tanaman Miswandi di Stabat, Kamis.

Miswandi mengungkapkan tanaman padi yang terancam puso karena kekeringan itu terdiri dari rusak ringan seluas 1.694 hektare dan rusak sedang seluas 470 hektare, katanya.

Yang terluas mengalami dampaknya di kecamatan Tanjungpura dari 2.164 hektare yang terancam puso ada seluas 1.165 hektare yang terdiri dari rusak ringan seluas 912 hektare, sedang seluas 453 hektare.

Meliputi desa Pematang Cengal Barat, Baja Kuning, Pulau Banyak, Pematang Serai, Pantai Cermin, Pekubuan.

Sementara varietas padi yang mengalami kekeringan itu Ciherang, Indragiri, Mikongga, dengan umur tanaman antara 15-30 hari, katanya.

Untuk kecamatan lain yang terancam puso seperti Secanggang ada seluas 914 hektare dimana rusak ringan seluas 724 hektare dan sedang seluas 190 hektare, yang berada di desa Hinai Kiri, Kebun Kelapa, Teluk, Secanggang, Pantai gading dan Karya Maju.

"Kalau di Secanggang ini, tanaman padi yang dilanda kekeringan itu berumur antara 50-85 hari, dari varietas Ciherang dan Mikongga," katanya.

Miswandi juga mengungkapkan di kecamatan Stabat seluas 40 hektare di desa Paya Mabar, Ara Condong, Pantai Gemi dan Banyumas, usia per tanaman antara 30-60 hari varietas Ciherang dan Mikongga.

Kalau di kecamatan Binjai hanya seluas 35 hektare, kekeringan tersebut terjadi di desa Sambirejo dimana umur tanaman padinya antara 45-60 hari, juga terancam puso di kecamatan Wampu seluas 10 hektare.

"Petani juga sedang berupaya untuk menyelamatkan tanaman padi tersebut, dengan mempergunakan pompa air, untuk mengairi persawahan mereka, agar tanaman padi bisa diselamatkan," katanya. ***2***

Nurul H
(T.KR-IFZ/B/N. Hayat/N. Hayat)

Pewarta: Imam Fauzi
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026