Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Jumat mengatakan bahwa sentimen negatif global menahan laju mata uang rupiah sehingga kembali mengalami tekanan setelah pada awal tahun naik.
"Pelaku pasar kembali memburu dolar AS menyusul kekhawatiran akan diterapkannya pengurangan stimulus keuangan (tapering off) The Fed pada Januari ini," katanya.
Ia menambahkan sentimen positif dari dalam negeri yakni data inflasi domestik yang masih terkendali di level 8,38 persen secara tahunan (YoY) dan neraca perdagangan Indonesia yang surplus sebesar 776,8 juta dolar AS, tertahan oleh sentimen negatif dari eksternal.
Analis Pasar Uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto menambahkan data ekonomi domestik diharapkan mampu menahan sentimen negatif eksternal.
"Untuk jangka pendek-menengah data domestik akan mempengaruhi pasar valas dalam negeri," katanya.
Ia memprediksi, pada akhir pekan ini (Jumat) mata uang rupiah akan bergerak di kisaran Rp11.950-Rp12.300 per dolar AS.***2***
(T.KR-ZMF/B/S. Suryatie/B/S. Suryatie)
Pewarta: Zubi Mahrofi:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.