Samosir, (antarasumut)- Mangalahat Horbo Bius adalah ritual agung suku Batak. Upacara ini juga merupakan sesuatu yang langka, dan mungkin tidak sering dilakukan lagi. Dalam FDT 2013, Mangalahat Horbo dilaksanakan di Open Stage Tuktuk, Samosir.

Dulu, acara itu dilakukan di halaman yang kini terdapat Museum Huta Bolon Simanindo. Di depan Rumah Bolon terdapat Sopo atau lumbung padi. Di tengah kedua bangunan itu ada ruang terbuka cukup luas, yang pada masa lalu dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upacara adat Mangalahat Horbo. Ini adalah upacara adat menyembelih kerbau yang diiringi dengan memukul gondang, alat musik perkusi tradisional Batak.

Di ruang terbuka itu didirikan sebuah tonggak dihiasi dengan daun-daun melambangkan pohon suci yang disebut Borotan. Ke tempat itulah kerbau digiring, diikat, lalu disembelih. Setelah terlebih dulu melalui sejumlah tahapan dalam upacara adat Mangalahat Horbo tersebut.

Menurut Pastor Paroki Pangururan, Dr Togar Nainggolan, Mangalahat artinya mengembalikan kosmos kepada Sang Maha Pencipta, agar diperbarui dan dicipta ulang. Sedangkan Horbo Bius secara harafiah berarti kerbau puak penduduk satu bius atau kesatuan wilayah puak paguyuban manusia.

Bius dibentuk berdasarkan realitas komponen penduduk, yang dihitung per keluarga. Horbo bius adalah kurban bakti tertinggi manusia kepada Tuhan Maha Pencipta.

Dalam Mangalahat Horbo Bius,, banyak pihak yang berperan. Di antaranya, Malim Parmangmang yang diwakili pastor dan malim parhata, Raja-raja Parbaringin yang berperan sebagai fungsionaris religius pengurbanan horbo bius atau tuan rumah dan biasanya berjumlah 12 orang pria, Malim Pardaupa yakni raja parbaringin pandua atau kedua, kemudian si Boru Malim yakni seorang perempuan anggun berbusana putih suci.

Selanjutnya ada Raja-raja Bius yang mewakili bius yang ada. Ada juga Raja-raja Parhara yakni raja pengundang yang terdiri dari 10 orang pemuda dan tiga orang dipilih menjadi penombak kerbau. Tujuh lainnya menjadi pemotong daging. Dilengkapi pula dengan musisi, para penyanyi, dan bagian lain dari upacara itu.

Daging kerbau yang disembelih itu kemudian dibagi-bagikan kepada yang berpesta serta kepada yang berhak menerima sesuai dengan adat yang ditentukan. Suatu ritual yang juga mengingatkan untuk tak melupakan orang lain bila menerima suatu rezeki.

Pewarta: Tetty Naibaho
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026