Medan, 3/6 (Antara)-Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) masih tetap optimistis bahwa perdagangan Sumut dan Cina tetap surplus meski nilai impor terus naik dan banyaknya isu negatif perdagangan ke negara itu.

"Surplus perdagangan yang besar pada kuartal I 2013 atau mencapai 101,103 juta dolar AS diyakini masih bisa dipertahankan, meski nilai impor naik dan banyaknya kebijakan Cina yang seakan berupaya menekan ekspor Indonesia seperti rencana pelarangan masuknya batu bara berkalori rendah (low rank),"kata Sekretaris Apindo Sumut, Laksamana Adiyaksa di Medan, Senin.

Surplus perdagangan yang cukup besar atau mencapai 101,103 juta dolar AS di kuartal I 2013 itu berasal dari ekspor sebesar 403,358 juta dolar AS dan impor 302,255 juta dolar AS.

Surplus perdagangan yang semakin besar itu tentu saja menggembirakan apalagi besarannya meningkat tajam dibandingkan periode sama 2012.

Pada kuartal I 2012, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, neraca perdagangan Sumut dan Cina masih 16,275 juta dolar AS.

Ekspor utama Sumut ke Cina masih tetap didominasi karet alam, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), sedangkan impor terbesar berupa pupuk, besi dan baja serta mesin.

Eksportir karet Sumut, Tjoe Min Fat menyebutkan, Cina masih sangat tergantung dengan karet alam Indonesia.

Permintaan karet sebenarnya tren menguat tetapi karena nilai jualnya masih tren melemah dampak krisis global membuat devisa dari golongan barang itu malah turun.

"Industri otomotif Cina mulai pulih sehingga kebutuhan karet pasti tren membaik dan itu angin segar bagi pengusaha dan Pemerintah Provinsi Sumut untuk mendapatkan devisa yang lebih besar dari negara itu,"katanya.***3*** (T.E016/B/Subagyo/C/Subagyo) 03-06-2013 18:34:03

Pewarta: Evalisa Siregar
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026