Medan, 17/5 (Antara) - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Simalungun, Sumatera Utara (Sumut), harus direalisasikan secepatnya karena proyek yang merupakan salah satu Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) itu bisa mempercepat pergerakan ekonomi Sumut bahkan nasional.

"Data mengungkapkan, hingga jangka panjang, KEK itu bisa menyerap investasi hingga Rp3,673 triliun. Angka itu tentunya sangat mendorong percepatan dalam segala aspek mulai perekonomian hingga status sosal masyarakat Sumut," kata akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU) Kasyful Mahalli, di Medan, Jumat.

Dengan investasi yang cukup besar, kata dia, tentunya bisa menyerap tenaga kerja yang lebih banyak sehingga mengurangi angka pengangguran, mendongkrak ekspor yang membuat devisa semakin besar serta membuat nama Sumut dan Indonesia semakin dikenal di dunia.

Untuk mempercepat pembangunan KEK Sei Mangkei di Simalungun itu, diakui diperlukan kemauan yang kuat dari semua pemangku kepentingan mulai di kabupaten, provinsi dan Pemerintah Pusat.

"Pemkab (pemerintah kabupaten), pemprov (pemerintah provinsi) tidak bisa dibiarkan mengerjakan atau mengurus proyek itu agar benar-benar menjadi KEK seperti yang diharapkan, dan sebaliknya juga Pemerintah Pusat harus mendapat dukungan penuh dari pemkab dan pemprov. Semua harus saling sinergi," katanya.

Dia mengakui, banyak hambatan untuk merampungkan proyek itu seperti terhambat pembebasan lahan, perizinan hingga investasi yang tidak sedikit.

Tetapi dengan kemauan kuat, diyakini KEK Sei Mangkei itu pasti bisa terwujud.

Sekretaris Satu/Wakil Kepala Bagian Ekonomi Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Indonesia, Hajo Provo Kluit, menyebutkan, adanya KEK Sei Mangkei menjadi salah satu daya tarik pengusaha negara itu untuk berinvestasi di Sumut.

"Lihat saja Unilever, perusahaan besar asal Belanda sudah mau berinvestasi di sana (Sei Mangkei)," katanya.

Kluit menolak menyebutkan apakah ada jaminan bahwa Unilever itu pasti berinvestasi di KEK Sei Mangkei itu yang hingga kini masih mengalami banyak hambatan dalam pengoperasiannya termasuk soal perizinan.

"Saya tentunya tidak bisa menjamin, yang saya tahu adalah minat investasi Unilever itu ada di Sei Mangkei," katanya.

Sebagai perusahaan atau pengusaha apalagi asing, kata dia, tentunya perusahaan tidak mau rugi atau bermasalh sehingga sudah seharusnya KEK itu benar-benar tidak memiliki problem apapun dalam operasionalnya.(E016)

Pewarta: Evalisa Siregar
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026