"Sejak dijual 31 Desember 2012 di SPBU Coco Pertamina Merak Jingga di Medan, penjualan Pertamax Plus terus naik atau sudah sebanyak tiga - empat kiloliter (KL) per hari, sehingga manajemen akan menambah dua hingga tiga SPBU lagi dalam tahun ini," kata Assistant Customer Relation Marketing Operation Pertamina Region I, Sonny Mirath, di Medan, Minggu.
Penjualan diyakini semakin banyak karena selain sudah dipercaya sebagai bahan bakar resmi dalam ajang Indoprix dan Indospeed Racing Series, Pertamax Plus itu juga digunakan dalam Honda Racing Championship secara nasional 4-13 Mei, dimana di Medan berlangsung 4-5 Mei.
Penggunaan Pertamax Plus dalam kegiatan racing itu karena sebelumnya hasil evaluasi penyelenggara menunjukkan penggunan bahan bakar produksi perusahaan BUMN itu ke kenderaan peserta menghasilkan
waktu tempuh lap terbaik (best lap time).
Pertamax Plus memiliki angka Research Octane Number (RON) minimum 95 dan dilengkapi additive yang menghasilkan akselerasi tinggi dan mampu menjaga kebersihan mesin, mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.
Peningkatan penggunaan Pertamax Plus itu juga semakin diyakini meningkat terus sejalan dengan perubahan pola fikir masyarakat dalam menjaga aset kenderaan hingga merasa penting ikut berperan dalam penjagaan lingkungan.
Pola fikir yang semakin posistf di Sumut itu sebelumnya sudah dilakukan masyarakat di Kepulauan Riau (Kepri) dan Riau dimana di daerah itu Pertamax Plus tidak asing lagi.
Sonny belum bisa menyebutkan lokasi penambahan SPBU Pertamax Plus itu. Tetapi kemungkinan besar SPBU Pertamax Plus itu berada di sekitar lokasi perumahan dan perkantoran di Medan.
Ia mengakui, harga Pertamax Plus lebih tinggi dari harga bahan bakar minyak (BBM) yang masih disubsidi, karena harga jualnya tergantung pada harga minyak di pasar internasional.
Dewasa ini, harga Pertamax Plus di kisaran Rp10.000 hingga Rp11.000 per liter.
Anggota DPD RI utusan Sumut, Parlindungan Purba menyebutkan, penggunaan BBM yang ramah lingkungan harus didukung masyarakat, mengingat
menjadi salah satu isu yang sangat sensitif di dalam dunia perdagangan bahkan politik di dunia internasional.
"Produk suatu negara misalnya bisa diboikot negara lain hanya dengan alasan produk itu tidak ramah lingkungan atau lingkungan daerah dan negara itu tidak terjaga," katanya.
Isu negatif atas lingkungan memang harus diutamakan karena persaingan dagang semakin ketat dengan akan dibukanya
2015."Penggunaan produk milik perusahaan BUMN juga berarti ikut membangun negeri," katanya. ***3*** (T.E016/B/S. Suryatie/S. Suryatie) 05-05-2013 15:49:01
Pewarta: Evalisa Siregar:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.