Syawal Panggabean, pekerja outsourcing PT Agincourt Resources (PT AR), menjadi salah satu warga terdampak banjir bandang dan penghentian operasional Tambang Emas Martabe di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Ia mengisahkan, banjir bandang Garoga terjadi Selasa, 25 November 2025. Saat itu Syawal bersiap berangkat kerja sekitar pukul 05.00 WIB, namun air mulai naik dan ia melaporkan kondisi tersebut kepada atasannya.
Kemudian, sekitar pukul 07.00 WIB, air terus meninggi hingga setinggi lutut di sekitar rumahnya. Syawal berupaya menahan air agar tidak masuk ke dalam rumah.
"Tidak berapa lama air sempat surut. Namun, sekitar pukul 08.30 WIB, saat melakukan pembersihan, banjir susulan datang dan merusak hampir seluruh bagian rumah. Yang tersisa hanya dapur, dua sajadah, dan sebuah Al-Qur’an," ujarnya.
Setelah beberapa waktu peristiwa banjir bandang Garoga terjadi, rasa pilu belum pupus, pemerintah menghentikan operasional tambang. Sebagai pekerja outsourcing, kontrak kerja Syawal berakhir pada 31 Desember dan tidak diperpanjang.
"Tidak ada pesangon yang diterima. Gaji terakhir memang masih dibayarkan, namun hingga kini belum ada kepastian terkait tunjangan hari raya (THR)," kata Syawal kepada ANTARA, Selasa.
Syawal memiliki empat orang anak. Satu di antaranya masih menempuh pendidikan tinggi di Aceh, sementara anak lainnya masih bersekolah.
Ia mengaku kehilangan sumber penghasilan sejak kontraknya berakhir, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan, terutama menjelang bulan Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Saat ini Syawal dan keluarganya masih tinggal di sisa rumah di Desa Garoga yang terdampak banjir. Ia menyebut kondisi tersebut membuat keluarga harus selalu waspada setiap kali hujan turun.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Syawal mengandalkan sisa tabungan yang dimilikinya. Ia juga menyibukkan diri membantu pembangunan kembali masjid di desanya yang rusak akibat banjir.
Syawal berharap operasional Tambang Martabe dapat kembali berjalan agar para pekerja bisa bekerja lagi dan roda ekonomi kembali bergerak.“Kami hanya ingin bekerja dan menafkahi keluarga. Itu saja,” ujarnya.
Kisah Syawal menjadi potret kecil dari ribuan pekerja kontrak dan outsourcing yang kini terjepit di tengah bencana alam, penghentian tambang, dan ketidakpastian hidup.
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2026