Tahun 2022, Rumah Sakit Bhayangkara Batangtoru Tapanuli Selatan dan RS Mata Mencirim 77 Medan yang menjadi mitra PT Agincourt Resources pengelola Tambang Emas Martabe dalam menjalankan Program Operasi Katarak Gratis menjadi saksi bisu kembali tumbuhnya harapan hidup baru bagi sebagian warga Sumatera Utara. 

Betapa tidak, operasi katarak yang disediakan secara gratis oleh PT Agincourt Resources (PTAR) selama tahun 2022 itu menambah deretan panjang jumlah warga Sumut yang memiliki harapan baru dalam kehidupan mereka pascabuta akibat diserang katarak. 

Pada 2022, PTAR mengoperasi 827 mata warga Sumut yang terkena katarak. 

Dengan jumlah sebanyak itu, maka total mata katarak warga yang dioperasi sejak 2011 sudah mencapai sebanyak 8.945 mata. 

Dengan kembali normalnya penglihatan, penderita katarak kembali bisa beraktivitas normal. 
 
Tim PTAR menyapa seorang anak laki-laki yang sudah selesai dioperasi menjelang acara penutupan bakti sosial operasi mata katarak gratis yang dihadiri Gubernur Sumut Edy Rahmayadi di RS Mata Mencirim 77 Medan, 24 November 2022. (ANTARA/Evalisa Siregar)

Slogan yang diusung PTAR dalam operasi mata katarak gratis yakni "Buka Mata, Lihat Indahnya Dunia" itu pun tampaknya harus dimaknai lebih luas. 

Karena dengan kembali bisa melihat, penderita katarak bukan hanya bisa melihat indahnya dunia yang diciptakan Sang Pencipta. Mereka yang sembuh bahkan bisa kembali berguna bagi dirinya sendiri, keluarga dan orang sekelilingnya dengan segala aktivitas positifnya. 

Atik (40), warga Padang Cermin, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, misalnya, mengaku sangat bersyukur matanya bisa kembali melihat setelah ikut Program Operasi Katarak PTAR di RS Mata Mencirim 77 Medan pada akhir 2022 lalu.

Cita-citanya setelah "melek" adalah kembali bekerja, bekerja apa saja termasuk jadi juru masak seperti yang dilakoninya selama ini di salah satu instansi. 

Hidup tergantung dengan orang lain walau keluarga sendiri dan tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain akibat keterbatasan penglihatan, menurut Atik, ternyata sangat menyakitkan dan bahkan memalukan. 

"Alhamdulillah-lah, udah dioperasi dan kini bisa melihat lagi. Tak lagi merepotkan keluarga atau tetangga, aku ingin kerja lagi," katanya. 

Dia mengaku seperti mendapat "durian runtuh" dengan operasi gratis mata kataraknya. 

"Dari awal tidak percaya ada operasi yang gratis karena biayanya mahal dan saya bukan penduduk di sekitar Tambang Emas Martabe, eh nyatanya benar. Alhamdulillah," katanya. 
 
Tim PTAR dan RS Mata Mencirim 77 Medan memeriksa dokumen dan memasangkan kacamata ke pasien yang matanya baru selesai dioperasi. (ANTARA/Evalisa Siregar)

Atik merupakan salah satu dari 302 pasien dalam kegiatan operasi katarak yang digelar PTAR di RS Mata Mencirim Tujuh Tujuh (77) Medan. 

Ia tercatat sebagai salah satu pasien yang berumur muda dan tergolong parah karena katarak sudah merusak kedua matanya, kanan dan kiri. 

Katarak itu sudah dirasakannya sejak lama dengan paling parah di mata kirinya. Dari mulai merasakan pandangan seperti berkabut dan semakin kabur, mata kirinya akhirnya sama sekali tidak bisa melihat. 

Tapi dengan alasan tidak ada uang dan takut dioperasi, dia membiarkannya, meski dengan kondisi itu pekerjaannya mulai terganggu. 

"Sering jatuh dan kepala pusing, tapi tetap bekerja, demi uang untuk hidup," katanya. 

Dunia, katanya, baru seperti kiamat ketika mata kanannya juga diserang katarak. 

Bukan saja harus berhenti kerja sehingga kehilangan pendapatan, Atik juga semakin frustasi karena katarak di kedua matanya membuat dia benar-benar buta. 

"Tidak bisalah digambarkan kegembiraan hati ini dengan kembali berfungsinya kedua mata ini. Aku akan bisa kerja lagi menghidupi diri sendiri dan keluarga," katanya. 
 
Petugas medis RS Mata Mencirim 77 mencek kesiapan pasien yang akan dioperasi. (ANTARA/Evalisa Siregar)

Kebahagiaan lain dituturkan Epaliani (25), warga Muara Batangtoru, Tapanuli Selatan. Ia merupakan orang tua dari Mutiara Nur Olivia (14 bulan) penderita katarak sejak bayi. 

"Bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Tambang Mas Martabe. Akhirnya Tiara (panggilan Mutiara) bisa melihat lagi sehingga tumbuh seperti anak-anak lainnya," katanya sembari mengusap kepala Tiara dengan air mata berlinang. 

Katarak Tiara sudah terlihat sejak dia berusia empat bulan, tapi tidak langsung diobati karena dikira bisa sembuh sendiri setelah Tiara bertumbuh besar seperti banyak yang dibilang orang-orang di kampungnya. 

Tetapi karena tidak hilang-hilang juga, Epaliani dan suaminya Pangihutan Harahap yang buruh dodos sawit membawa anak mereka ke rumah sakit dan dinyatakan bahwa mata Tiara katarak. 

"Kami lagi terus mengumpulkan duit untuk bisa mengoperasikan mata Tiara. Tapi Allah Maha Baik, akhirnya Tiara dioperasi gratis oleh perusahaan tambang emas ini," katanya. 

Karena sudah dioperasi, menurut Epaliani, uang untuk berobat yang sudah terkumpul sedikit itu akan tetap disimpan untuk biaya sekolah Tiara. 

Langkah Sangat Tepat
Langkah PTAR menjadikan operasi mata katarak gratis sebagai program rutin setiap tahun dinilai sangat tepat.

Salah satu dokter yang melakukan operasi mata katarak PTAR di RS Mata Mencirim 77 Medan, dr Marina, SpM, mengungkapkan, penyakit mata katarak pada umumnya tidak bisa dihindari saat usia beranjak tua. 

Bahkan, ancaman penyakit katarak itu dewasa ini juga menyerang usia produktif atau di bawah umur 55 tahun. 

Ancaman itu disebabkan banyak faktor seperti sering terpapar matahari secara langsung dan penyakit seperti diabetes. 

Kondisi itu mengartikan bahwa jumlah masyarakat penderita katarak bisa menunjukkan tren meningkat setiap tahun. 

Penyakit mata katarak itu pun risikonya semakin tinggi, karena kebanyakan masyarakat khususnya prasejahtera menggunakan pengobatan alternatif yang justru sering membuat penyakit itu semakin parah. 

Dari beberapa cerita pasien, kata dr Marina, mereka menggunakan cairan dari berbagai perasan daunan, seperti sirih. 

Penggunaan obat tanpa konsultasi dokter membuat mata katarak pasien justru semakin parah.

"Makanya sebagai dokter mata, saya mengapresiasi langkah Tambang Emas Martabe (PTAR) menjadikan kegiatan operasi mata katarak gratis ini sebagai program rutin sejak 2011. Langkah Martabe sangat menolong," katanya. 

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi pun memberikan apresiasi atas Program Operasi Mata Katarak Gratis yang digagas dan digalakkan Tambang Emas Martabe. 

"Bagaimana tidak diapresiasi? Lihat mereka, dari yang tidak bisa melihat karena katarak menjadi bisa melihat lagi," ujar gubernur usai melihat acara penutupan kegiatan pengobatan dan operasi mata katarak secara gratis oleh PTAR di RS Mata Mencirim 77 di Medan, 24 November 2022.

PTAR bantu tekan prevalensi buta
Senior Manager Corporate Communications PTAR, Katarina Siburian Hardono, mengakui program yang sudah dimulai sejak 2011 itu dinilai penting dilakukan untuk menekan prevalensi buta akibat katarak. 

Mengacu pada hasil Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RABB) tahun 2014-2016, prevalensi kebutaan akibat katarak di Indonesia mencapai 1,9 persen dengan sekitar 90 persen gangguan penglihatan terdapat di wilayah penduduk berpenghasilan rendah.

Di Sumut saja, 80 persen kebutaan pada penduduk usia 50 tahun ke atas disebabkan katarak yang tidak dioperasi. 

Meski sempat terhenti akibat pandemi COVID-19, namun pada 2022 program itu kembali dilanjutkan PTAR dan berarti itu merupakan tahun ke-8 operasi katarak gratis tersebut digelar. 

Pada 2022, sebanyak 827 mata berhasil dioperasi, 525 mata di RS Bhayangkara dan 302 mata di RS Mata Mencirim 77 Medan. Sekitar 75 persen di antara pasiennya berasal dari Tapanuli Selatan. 

Operasi sebanyak 827 mata pada 2022 itu membuat total mata katarak yang berhasil dioperasi oleh PTAR sejak 2011 menjadi 8.945 mata. 

Sejak masa eksplorasi hingga produksi awal pada 2012, PTAR memang sudah memiliki program pemberdayaan masyarakat yang salah satunya adalah operasi katarak yang sudah dimulai sejak 2011.

Operasi katarak gratis yang diwadahi PTAR setiap tahunnya merupakan bukti konkret dari komitmen perusahaan dalam mendukung kesehatan masyarakat khususnya masyarakat prasejahtera.

Penyelenggaraan operasi katarak sejalan dengan poin ketiga Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG's), yakni menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. 

PTAR sebagai perusahaan pengelola Tambang Emas Martabe yang telah beroperasi selama lebih dari 10 tahun tampaknya berkomitmen untuk terus menerapkan kaidah penambangan yang baik (good mining practice) yang mencakup praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang bertanggung jawab. 

Tahun ini, masyarakat penderita katarak di Sumut diyakini masih sangat berharap akan tetap ada kebaikan dari PTAR untuk memberi harapan baru bagi kehidupan lewat operasi mata katarak gratis.

Pewarta: Evalisa Siregar

Editor : Riza Mulyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2023