Kelelahan sangat berat dan menyebabkan stres, dengan sifat yang menetap atau fatigue menjadi salah satu masalah yang dapat dialami pasien kanker khususnya anak-anak.

Kondisi yang bersumber dari pengalaman fisik, emosi dan kognitif terhadap terapi kanker maupun penyakit kanker itu sendiri mengakibatkan pasien tidak bisa berfungsi seperti biasanya. Hal  ini sebenarnya bisa dikurangi, salah satunya meminta pasien melakukan aktivitas fisik baik di rumah sakit maupun saat dia berada di rumah.

Menurut Pengurus Pusat Ikatan Perawat Anak Indonesia (IPANI) Dr. Allenidekania, S.Kp, M.Sc, aktivitas fisik dapat menurunkan fatigue, inflamasi, meningkatkan kekuatan dan massa otot, meningkatkan kemampuan fungsi dan kesehatan mental. Bentuk aktivitas yang disarankan beragam seperti olahraga ringan, senam, yoga, perawatan diri, bersepeda, berenang atau hobi lain.

Baca juga: Dinkes Sumut genjot vaksinasi COVID-19 bagi lansia

Yoga membantu menurunkan kecemasan dan kelelahan. Meditasi sebagai salah satu karakteristik yoga berupa gerakan yang lembut dan tenang bisa mengurangi kelelahan. Selain itu, aerobic exercise meningkatkan kebugaran fisik dan menurunkan kelelahan.

"Bergerak meningkatkan peredaran darah. Riset mahasiswa di Universitas Indonesia, anak yang lebih aktif cenderung tidak fatigue dan korelasinya cukup tinggi," kata Allenidekania yang juga menjadi pengajar di Departemen Keperawatan Anak Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia itu dalam sebuah webinar kesehatan, Sabtu (19/2).

Fatigue umumnya tak terlihat secara fisik, tetapi dapat diamati dari aktivitas, kemampuan mental, motivasi, gairah hidup pasien. Anak-anak yang mengalami fatigue ketika ditanya biasanya menjawab, "Tidak dapat melakukan seperti dulu lagi", "Saya merasa beda", "Tidak mampu melakukan aktivitas rutin", "Butuh banyak istirahat atau tidur", "Merasa sedih, merasa bersalah".

Pada anak yang sudah dalam kondisi fatigue moderate, untuk melakukan pekerjaan ringan saja sudah mengeluarkan banyak keringat dan membutuhkan oksigen yang besar, dan terengah-engah. Sementara pada anak yang sudah merasa sangat lemah, biasanya banyak berbaring, tidak pindah-pindah atau cenderung melakukan aktivitas sedenter.

Riset menunjukkan, prevalensi fatigue pada anak dengan kanker rerata di atas 40 persen. Sebuah studi menunjukkan anak-anak dan remaja di Amerika dengan kanker 45 persennya mengalami masalah tidur, 50-70 persen mengalami fatigue. Sementara di Indonesia, sekitar 44,2-85 persen anak dilaporkan terkena kondisi fatigue.

Penyebab fatigue multifaktor antara lain akibat penyakit kanker itu sendiri, terapi anti-kanker seperti kemoterapi, radioterapi maupun pembedahan, penyakit komorbid termasuk obesitas dan kondisi psikologis anak. Pasien yang mendapatkan perawatan terapi lebih dari tiga hari dilaporkan mengalami fatigue empat kali lipat. Hal ini karena efek kemoterapi sangat masif.

Teori meyakini fatigue bisa terjadi sebelum terapi. Ini menjadi reaksi inflamasi dari pertumbuhan sel kanker sehingga terbentuk sitokin sebagai respon inflamasi yang ditandai peningkatan IL-6 dan TNF-apha.

Fatigue juga bisa terjadi selama terapi, terlihat dari efek kemoterapi, radioterapi yang meningkatkan produksi sitokin sebagai respons kerusakan jaringan dari kemoterapi dan radioterapi.

Kondisi kelelahan berat juga dapat dirasakan pasien setelah terapi. Data memperlihatkan, fatigue ditemukan pada 23 persen pasien yang telah menyelesaikan terapi anti-kanker.

Menurut Allenidekania, fatigue bisa menjadi prediktor rendahnya angka survival pada pasien kanker, cepatnya pasien masuk ke kondisi paliatif.

Penanganan fatigue

Penanganan masalah fatigue pada pasien kanker khususnya anak,, dari sisi dimensi fisik sebaiknya memegang prinsip hemat energi. Anak hanya melakukan kegiatan yang penting saja atau memilih hal yang ringan. Misalnya saat mandi, anak diberi kursi, kala dia berpakaian diminta sambil duduk, beri dia kaus oblong ketimbang kemeja dengan banyak kancing dan memilih sepatu slip on daripada sepatu bertali.

"Lakukan yang bisa dilakukan dan bantu yang dirasa berat. Kita tidak perlu membantu anak sepanjang waktu karena anak ini terus berkembang, akan tumbuh, dia harus mencapai kepandaian sesuai umurnya," tutur Allenidekania.

Dari sisi dimensi psikologis, fatigue berhubungan dengan munculnya rasa cemas, stres dan depresi. Orangtua atau orang sekitar pasien bisa membantu mengurangi masalah psikologis pasien dengan mengajak bicara pasien dan menunjukkan empati terhadap kecemasan.

Pada pasien, masalah psikologis yang kerap terjadi antara lain stres, depresi berhubungan dengan fatigue. Sedangkan pada mereka yang tidak depresi, lebih sedikit fatigue-nya atau tidak mengalaminya sama sekali.

Anak berusia besar cenderung emas karena pikiran mereka lebih berkembang ditambah kemungkinan mengalami trauma selama prosedur terapi dan cemas antisipatif. Sekolah yang terganggu dan memikirkan orang tua yang kadang tak sengaja berkeluh kesah pada anak juga dapat menyebabkan cemas.

Untuk dimensi kognitif, Allenidekania menyarankan orangtua atau orang terdekat pasien membantu meningkatkan kembali kemampuan kognitif pasien dengan cara berbicara dengan jelas dan lambat, tidak menyebutkan banyak hal dalam satu waktu, meminta anak mengulang apa yang disampaikan dan membuat catatan sebagai pengingat.

"Dengan latihan ini sering-sering, nanti anak terbiasa misalnya memang kondisi kekuatan ingatannya tidak mampu menyimpan banyak hal, maka dia akan punya kebiasaan baru yaitu mencatat," saran dia.

Sementara dari dimensi sosial, mempertahankan hubungan dengan sesama seperti memfasilitasi pasien bertemu orang terdekat juga dapat membantu menurunkan fatigue-nya.

Fatigue atau kelelahan sangat berat termasuk salah satu kondisi yang dialami pasien kanker sebelum hingga setelah terapi. Sejumlah hal bisa dilakukan untuk membantu mengatasi atau setidaknya mengurangi masalah ini, mulai dari mengajak pasien melakukan aktivitas fisik hingga berempati dengan kecemasan yang dialaminya.
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2022