Bencana alam yang terjadi di Desa Simungun, Kecamatan Siempat Nempu Hilir merusak areal persawahan sawah milik para warga akibat jebolnya Bendung D.I Simungun, pada Senin (15/11/2021).

Bupati Dairi Dr Eddy Keleng Ate Berutu langsung memerintahkan jajarannya dan dinas terkait untuk segera melakukan penanganan langsung ke lokasi bencana sebagai bentuk tanggap bencana, atas peristiwa yang terjadi.

“PUTR sudah saya minta untuk Gerak Cepat, segera berkoordinasi dengan BPBD agar melakukan penanganan di lapangan dan mengambil langkah-langkah penanganan sementara dan rencana permanen. Dan di kesempatan ini saya juga menghimbau masyarakat kita untuk terus waspada atas bencana yang terjadi, terlebih di tengah kondisi musim dan curah hujan yang tinggi yang masih akan terus terjadi di bulan ini.”, ujar Eddy Berutu saat mendapatkan informasi adanya bencana yang terjadi di desa Simungun tersebut.

Kabid Sumber Daya Air PUTR Kabupaten Dairi, Wandi B.O Tumanggor yang turun bersama tim ke lokasi kejadian, di Desa Simungun, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Selasa (16/11/2021) menyampaikan pihaknya telah mengambil berbagai tindakan penanganan darurat.

Diantaranya Pekerjaan Bendung Darurat dengan turap kayu atau bambu, peletakan terpal plastik pembungkus kisdam menjaga resapan atau rembesan air, pemasangan kisdam (goni plastik berisi pasir atau tanah ) untuk pengaliran air ke Saluran Irigasi persawahan warga, pengangkatan material bendung yang rusak dari dasar sungai, dan pembersihan seluruh saluran D.I Simungun.

“Besok dilaksanakan gotong royong bersama tim dan juga masyarakat,” terang Wandi.

Dari informasi yang dikumpulkan oleh tim survey dan tim di lapangan, Wandi juga menerangkan bahwa bencana yang terjadi di Desa Simungun diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi yang terjadi pada tanggal 15 November 2021 mulai pukul 7.00 WIB hingga mengakibatkan bendungan D.I Simungun rusak berat dan tanah areal bendung juga tergerus dan banyak pohon tumbang di lokasi.

“Dampak yang terjadi dengan jebolnya Bendung D.I Simungun mengakibatkan kerusakan area fungsional persawahan sekitar 20 Ha. Dan dampak lain terganggunya irigasi persawahan warga yang saat ini sedang bercocok tanam,” ungkap Wandi.

“Penanganan masih kita lakukan sebagaimana yang diinstruksikan oleh pimpinan,” pungkasnya.
 

Pewarta: Rilis

Editor : Riza Mulyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2021