Harga gabah Kopi Sipirok hingga saat ini masih bertahan lemah di  kisaran 16 - 17 ribu per kilogramnya. 

"Dibanding sebelum masa COVID-19 harga ini jauh turun mencapai 40 ke 50 persen," kata Ketua MPIG KTS (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Tapanuli Selatan) Suryadi ketika bertemu ANTARA di Sipirok, Minggu (16/5).

Sueyadi mengatakan, sebelum masa COVID-19 Maret 2020 lalu harga gabah kopi arabika Sipirok tingkat petani dapat menyentuh angka 30 ribuan bahkan lebih per kilogramnya. 

Baca juga: Harga gabah Kopi Sipirok turun 50 persen

Menurutnya, penjualan gabah ke luar daerah sebenarnya salah satu kendala dihadapi petani kopi Sipirok hingga saat ini. Padahal bubuk kopi  hasil petani Tapanuli Selatan sangat berkualitas. 

"Betapa tidak gabah kopi yang di tampung touke luar daerah ketika sudah di olah menjadi bubuk pastilah sudah menjadi merk (daerah) orang lain," ujarnya.

"Ibarat Kambing punya susu Sapi punya nama," katanya berpepatah. 

Gabah kopi arabika Sipirok saat ini banyak di incar daerah luar Tapanuli Selatan seperti Tapanuli Utara, Humbahas, Siantar, Medan dan  lainnya. 

Kendala lain dihadapi petani kopi Tapanuli Selatan adalah soal pengolahan bubuk kopi. 

"Kita atau MPIG TPS sendiri belum memiliki mesin pengolahan yang besar (kilang kopi) untuk dapat menjadi nilai tambah petani," terangnya. 

"Padahal hasil survei produksi gabah kopi petani kita setiap minggu mampu capai 100 ton dan bila ada kilang kopi bisa memproduksi sekitar 50 ton bahkan lebih green bean," ujarnya. 

Potensi kopi arabika itu, katanya, seperti di wilayah Marancar, Sipirok, Arse, SD. Hole, Angkola Timur dan Angkola Barat.

Bilamana sudah mampu menghasilkan green bean dalam jumlah besar otomatis petani mendapat nilai tambah. Sebab harga green bean sekarang dikisaran 60 - 70 ribu per kg atau menurun dibanding sebelum masa COVID-19 kisaran 70 - 80 bahkan capai 90 ribu per kg. 

"Masyarakat petani hanya tinggal menjaga kualitas produksinya dan merk. apalagi permintaan yang tinggi itu tingkat green bean baik juga untuk eksport di samping bubuk seperti spesialti Rp200 ribu/kg," katanya.

"Bahkan kalau di Aceh hasil penjualan produksi kopinya sudah dapat memberikan sumbangsih untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar Rp300 dalam per kg," kata Suryadi.

Suryadi yang didampingi Bendahara MPIG TPS Siti Muslihah juga owner Tabo Sipirok Coffe mengatakan, potensi petani kopi Tapanuli Selatan untuk dapat lebih maju sangat terbuka lebar 

"Hanya saja semua pihak-pihak terkait (masyarakat petani kopi dan pemerintah) harus dapat saling mendukung penuh demi kemajuan Kopi Arabika Sipirok yang sudah mendunia," kata mereka berdua.

Pewarta: Kodir Pohan

Editor : Akung


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2021