Perdana Menteri Belanda Mark Rutte tidak membesuk sang ibu yang berusia 96 tahun selama lebih dari delapan pekan hingga beberapa jam sebelum meninggal bulan ini lantaran karantina wilayah, menurut kantornya pada Selasa (26/5).

Mieke Rutte-Dilling mengembuskan napas terakhir pada 13 Mei, seperti diumumkan kantor PM pada Senin. Kematiannya tidak terkait dengan COVID-19 meski terdapat kasus di panti jompo tempatnya tinggal.

"Perdana menteri mematuhi semua aturan pembatasan COVID-19 dan tidak membesuk ibunya selama (lebih dari 8) pekan," menurut pernyataan kantor PM.

Baca juga: Pasien usia 30 tahun jadi korban kematian COVID-19 termuda Australia

Baca juga: Untuk memutus mara rantai penyebaran COVID-19, Dinkes Medan akan lakukan rapid test massal

"Namun langkah pembatasan memberi peluang untuk menyampaikan salam perpisahan kepada anggota keluarga yang kritis selama fase terakhir dan PM tetap bersama sang ibu pada malam terakhirnya."

Kisah itu muncul di tengah kontroversi di Inggris soal keputusan penasihat senior Perdana Menteri Boris Johnson, Dominic Cummings, untuk berkendara sejauh 400 km dari London selama karantina wilayah.

Cummings membela perjalanannya untuk tetap mendatangi kediaman keluarganya, dengan mengatakan tindakannya beralasan dalam kondisi tersebut sebab ia khawatir tidak memiliki opsi merawat anaknya jika ia bersama sang istri terinfeksi COVID-19.

Keputusannya untuk melakukan perjalanan selama karantina wilayah menuai kemarahan sejumlah pihak di Inggris. Beberapa anggota dewan dari partai Konservatif Johnson menuntut agar ia dipecat setelah mendapat surat kecaman keras dari para pemilih.

Sumber: Reuters

Pewarta: Asri Mayang Sari

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2020