Medan, 31/12 (Antara) - Pengungsi erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara hingga kini benar-benar pasrah dan semakin lemas, karena mereka masih saja tinggal di lokasi penampungan yang disediakan oleh pemerintah.

Padahal, pengungsi Sinabung itu, sudah bertahun-tahun lamanya berada di Posko Penampungan, hingga akhir tahun 2016 ini.

Bahkan, pemerintah terus menjanjikan kepada para pengungsi akan diberikan rumah tempat tinggal bagi warga Karo yang terkena bencana alam tersebut.

Namun, sampai sekarang apa yang telah dijanjikan itu, tidak juga terealisasi, sebab pengungsi Sinabung yang berjumlah 9.318 jiwa atau 2.522 kepala keluarga (KK) masih tinggal di Posko Penampungan.

Posko tersebut, yakni kantor KNPI, Gereja HKBP, Gereja Katolik, Gedung Universitas Karo (Unika) dan beberapa lokasi lainnya.

Seluruh warga pengungsi itu, berasal dari 9 desa di Kabupaten Karo, yaitu Tiga Pancur, Pintu Besi, Sigarang-garang, Jeraya, Kuta Rakyat, Kuta Ginjang dan Dusun Lau Kawar, Mardinding serta Kuta Tunggal.

Yang menjadi pertanyaan, sampai kapan pengungsi erupsi Gunung Sinabung itu, tinggal di "penampungan".Hal ini, jadi teka-teki dan belum lagi terjawab. Sebab, ribuan jiwa pengungsi yang kehilangan harta benda dan rumah tempat tinggal itu, masih hidup terlunta-lunta di lokasi penampungan tersebut.

Adakah, tergerak hati pemerintah untuk memperjuangkan dan mempercepat pembangunan rumah bagi pengungsi erupsi Gunung Sinabung yang menderita itu.

Lokasi Relokasi Mandiri

Bupati Karo Terkelin Brahmana, Dandim 0205/Tanah Karo, Letkol Inf Agustatius Sitepu meninjau lokasi relokasi mandiri di Desa Nang Belawan, Kecamatan Simpang Empat.

"Lokasi yang ditinjau tersebut, memiliki luas areal lebih kurang 6 hektare," kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karo, Jhonson Tarigan.

Lokasi yang berada di Desa Nang Belawan itu, menurut dia, rencananya akan ditempati warga pengungsi erupsi Gunung Sinabung yang selama ini belum lagi memiliki tempat tinggal.

"Relokasi Mandiri itu, merupakan tahap kedua setelah relokasi pengungsi erupsi Gunung Sinabung tahap pertama yang dibangun 370 unit rumah di Desa Siosar, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo," ucap Jhonson.

Ia mengatakan, warga yang selama ini belum lagi memilik rumah dan lahan dapat bergabung di Desa Nang Belawan.

Bahkan, dalam kesempatan ini, hadir beberapa orang pengungsi Sinabung berasal dari Desa Berastepu dan disaksikan masyarakat Desa Nang Belawan.

"Mudahan-mudahan rencana lokasi relokasi baru di desa tersebut, dapat disetujui dan segera ditempati sejumlah pengungsi Sinabung yang selama ini tinggal di Posko Penampungan di Kabanjahe," ujarnya

Jhonson menambahkan, jumlah pengungsi Sinabung saat ini sebanyak 9.318 jiwa atau 2.522 kepala keluarga (KK), terdiri dari laki-laki 4.616 orang, perempuan 4.702 orang, lanjut usia (lansia) 532 orang, dan ibu hamil 70 orang.

Anak Pengungsi Ikuti Jambore

Sebanyak 40 anak pengungsi dari tiga desa lingkar Gunung Sinabung, Desa Sukanalu, Desa Perbaji, dan Desa Mardingding mengikuti Jambore Anak Lingkar Sinabung di Bumi Perkemahan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.

"Kegiatan jambore tersebut dilaksanakan selama tiga hari, yakni sejak 28 hingga 30 Desember 2016," kata Koordinator Pelaksana Aliansi Pemuda Peduli Bencana (APEPEBE) Sofyan Adli, di Medan.

Jambore tersebut bertujuan untuk memberi sikap kesiapsiagaan bencana pada anak desa di lingkar kaki gunung Sinabung, agar tetap dalam kondisi tenang dan stabil, apabila terjadi gempa tektonik atau letusan Sinabung.

"Hal itu perlu dilakukan mengingat daerah tempat tinggal mereka sangat rawan bencana," katanya.

Ia mengatakan kegiatan Jambore Anak lingkar Sinabung tersebut juga sebagai salah satu solusi pemulihan psikososial anak yang terkena dampak dari bencana alam erupsi gunung Sinabung.

"Pada kegiatan ini anak-anak akan berlatih dalam peningkatan kapasitas diri agar dapat memulihkan psikis dan mental mereka, serta kewaspadaan terhadap bencana alam, yang masih terjadi hingga sekarang," katanya.

Selain bentuk permainan game, anak juga diberi bekal ilmu pengetahuan tentang edukasi pemulihan psikososial anak yang terkena dampak erupsi gunung Sinabung, memberikan pengetahuan perihal mitigasi bencana.

Kemudian, pengetahuan pertolongan pertama dan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan memberikan pengetahuan perihal manajemen organisasi terhadap anak di lingkar Sinabung, serta simulasi evakuasi kebencanaan.

"Kami berharap anak-anak menjadi peduli terhadap lingkungannya dan peduli terhadap sesamanya. Selain peduli, mereka diharapkan tangguh dalam menghadapi krisis kebencanaan gunung api Sinabung yang berkepanjangan ini," kata Sofyan.


Pengungsi Sinabung Direlokasi

Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi, mengatakan, tahun 2017, pemerintah provinsi menargetkan seluruh pengungsi korban erupsi Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo harus sudah direlokasi ke rumah hunian sementara (huntara) atau hunian tetap untuk mereka tahun depan.

"Paling tidak, di kwartal 1 tahun 2017, menjadi waktu terakhir bagi para korban di pengungsi," kata Erry, pada kunjungannya ke Posko Pengungsian di Jalan Kiras Bangun Kecamatan Simpang Empat, Kabanjahe.

Erry menegaskan, pihaknya sudah meminta kepada Pemerintah Kabupaten Karo dan pihak terkait dapat segera merealisasikan pemindahan para pengungsi yang sudah menderita bertahun-tahun hidup di posko pengungsian.

Bahkan, pemerintah pusat sudah menyediakan anggarannya, dan tinggal daerah yang mengatur pelaksanaannya.

Masih cukup banyak pengungsi yang ada di tempat penampungan, kita berharap segera dibangun huntara dan hunian tetap," kata mantan Bupati Serdang Bedagai (Sergai).

Pewarta: Munawar Mandailing

Editor : Tengku Amri


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2016