Medan, 19/5 (Antara) - Ekspor kopi khususnya asal Sumatera Utara mengalami perlambatan akibat harga jual dinilai mahal.


"Saat ini sedang memasuki ujung panen yang mengakibatkan rendemen dan produksi kopi lebih sedikit sehingga eksportir menawarkan lebih mahal. Sementara sebaliknya importir menawar lebih rendah," ujar Ketua Asosiasi Eksportit Kopi Indonesia (AEKI) Sumut, Saidul Alam di Medan, Kamis.


Pembeli atau "buyer" berharap kopi biji arabika dijual eksportir sekitar 4,6 dolar AS per kg.


Sementara akibat produksi di Sumut atau dalam negeri lebih sedikit yang menyebabkan harga beli ke petani naik, maka eksportir menjual di atas 4,7 dolar AS per kg.


"Akibat belum ada titik temu harga, maka ekspor kopi sedikit terhambat atau melambat dalam beberapa bulan terakhir," kata Saidul yang baru terpilih jadi Ketua AEKI Sumut menggantikan Andryanus Simarmata.
;;;;;;;;;;;;;;;;

Menurut dia, agar harga jual bisa bersaing, maka salah satu solusinya adalah dengan meningkatkan produksi dan juga kualitas hasilnya.



Infrastruktur jalan ke lokasi perkebunan kopi masyarakat juga harus diperbaki agar biaya transportasi juga bisa lebih murah sehingga tidak menjadi beban di harga produksi/jual.



"Dengan penjualan yang sepi, maka memang ada kekhawatiran volume ekspor kopi Sumut turun tahun 2016 ini dibandingkan pada 2015 ," kata Saidul Alam.



Pada tahun 2015, ekspor kopi Sumut masing-masing sebanyak 70.784.579 kg untuk jenis biji kopi arabika dan 144.570 kg biji robusta.



Ketua Umum AEKI, Irfan Anwar, sebelumnya mengakui, asosiasi itu memprediksi produksi kopi Indonesia tahun 2016 kembali turun atau tinggal sekitar 625.000 ton akibat beberapa faktor khususnya dampak kekeringan.



El Nino yang sudah diprediksi sejak tahun lalu diperkirakan menurunkan produksi kopi nasional dari 680.000 ton tahun 2015 menjadi hanya sekitar 625.000 ton pada 2016,



Menurut Irfan, produksi kopi Indonesia dalam beberapa tahun memang terus mengalami penurunan dampak dari cuaca, tanaman tua, peralihan tanaman robusta ke arabika hingga penebangan pohon dan mengganti dengan tanaman lain.



Produksi kopi tertinggi masih terjadi di tahun 2012 sebanyak 750.000 ton.



"Pemerintah memang harus mendorong peningkatan prodoksi agar kopi Indonesia bisa semakin bersaing dengan negara penghasil lainnya," katanya.



Peningkatan produksi bisa dilakukan dengan penambahan luas areal atau produktivitas tanaman kopi.



"Perdagangan kopi masih menjanjikan di dalam dan luar negeri. Apalagi kopi Indonesia memiliki kekhasan rasa," katanya. 

Pewarta: Evalisa Siregar

Editor : Ribut Priadi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2016