Pembakaran sejumlah barang yang digelar di Jalan Merderka depan kantor Wali Kota Pematangsiantar itu sebagai bentuk dukacita dan keprihatinan atas matinya keadilan bagi pedagang.
Dalam aksi itu pedagang yang ingin bertemu langsung dengan Wali Kota Hulman Sitorus SE, juga tidak kesampaian, bahkan tidak ada seorangpun pejabat Pemko yang menerima dan mendengar aspirasi pedagang bersama aliansi mahasiswa/i itu.
Sedangkan aksi pembakaran akhirnya dihentikan dengan mematikan api dan puing-puing disingkirkan ke pinggir jalan menyusul datangnya Kapolres Pematangsiantar AKBP Alberd TB Sianipar SIK MH ke lokasi demo sekitar pukul 15.55 WIB.
Kapolres juga menginstruksikan anggota kepolisian dibawah komandonya untuk membuka separuh ruas jalan yang sempat ditutup total untuk memberikan ruang bagi pendemo mulai sekitar pukul 13.30 WIB.
Ketika pedagang dari kaum ibu menyampaikan keinginan untuk berdialog dengan Wali Kota, Kapolres menegaskan bukan kewenangan pihak kepolisian untuk menghadirkan Wali Kota hanya sebatas memfasilitasi.
“Saya sudah mencoba menghubungi Sekda sejak pagi, namun teleponnya mati. Dan saya tegaskan bahwa kehadiran kepolisian di sini (demo,red) untuk mengawal dan mengamankan pedagang,” tandas Kapolres yang didampinmgi Waka Polres Kompol Leo H Siagian SIK MSi.
Menyikapi keinginan pedagang yang hendak bertahan di lokasi demo, Kapolres tidak melarang. “Silakan kalau mau melanjutkan sampai besok pagi. Kita akan berikan ruang dua jalur jalan ini, supaya tidak mengganggu arus lalulintas. Bila perlu pakai police line,” ujar Kapolres.
Sampai pukul 15.00 WIB, pedagang yang mulai aksi sekitar pukul 11.30 WIB di depan kantor Wali Kota dan longmarch berjalan kaki menyusuri Jalan Merdeka-Jalan Sutomo untuk kembali lagi ke depan kantor Wali Kota, masih bertahan.
Sembari menunggu Wali Kota, aliansi mahsiswa/i dan pedagang yang dominan pakai baju hitam, menggelar ‘panggung’ terbuka berupa nyanyian dan puisi serta teatrikal penggusuran pedagang.
Untuk diketahui, sedikitnya 149 pedagang malam yang berjualan di Jalan Sudirman, sekitar lapangan Haji Adam Malik dan Jalan Sutomo tidak lagi diijinkan Pemko membuka dagangannya dan mereka di relokasi ke Siantar Walk, di sekitaran kompleks Stasiun Kereta Api Pematangsiantar, tapi pedagang menolak karena lokasinya tidak straregis.
Sementara pantauan ANTARA, sekitar 20-an pedagang telah membuka usaha di Siantar Walk dan Pemko telah memberi batas akhir untuk pedagang malam pindah sampai hari ini. Jika tidak bersedia, maka lapak yang disediakan akan diberi ke pedagang lain. (Waristo)
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.