"Laju nilai tukar rupiah kembali melanjutkan pelemahan menembus level Rp12.000 per dolar AS seiring dengan kembali munculnya sentimen positif bagi mata uang Amerika Serikat," kata Analis Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Senin.
Ia mengemukakan bahwa beberapa data ekonomi AS yang cukup positif membuat pelaku pasar keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia mempersepsikan the Fed akan mendorong kenaikan suku bunga lebih cepat.
"Presiden the Fed Dallas memberikan pernyataan indikasi akan adanya kenaikan suku bunga AS (Fed rate) lebih cepat sehingga berdampak pada melonjaknya dolar AS."
Dari dalam negeri, lanjut dia, yakni terkait rilis Bank Pembangunan Asia (ADB) yang memangkas pertumbuhan Indonesia tahun ini dari 5,7 persen menjadi 5,3 persen menambah beban bagi mata uang rupiah.
Selain itu, ia menambahkan bahwa respon negatif berlebihan dari pelaku pasar terkait hasil sidang paripurna DPR yang menyetujui RUU Pilkada secara tidak langsung juga masih membebani laju mata uang rupiah.
"Diharapkan pelemahan yang ada dapat terbatas sehingga koreksi rupiah tidak lebih dalam terhadap dolar AS," katanya.
Pengamat Pasar Uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menambahkan bahwa di saat yang sama mayoritas mata uang di negara-negara kawasan Asia juga mengalami tekanan.
"Faktor negatif eksternal lebih dominan sentimennya menekan mata uang rupiah. Suku bunga acuan AS serta masih memanasnya konflik geopolitik Rusia dengan Ukraina akan terus membebani rupiah," ujarnya. ***2***
(T.KR-ZMF/B/S. Suryatie/S. Suryatie) 29-09-2014 10:12:01
Pewarta: Zubi Mahrofi:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.