Jakarta, 24/6 (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Selasa pagi melemah tipis dua poin menjadi Rp11.994 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp11.992 per dolar AS.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta, Selasa mengatakan, mata uang rupiah memperpanjang penurunannya mengingat masih adanya kekhawatiran pelaku pasar uang terhadap potensi terganggunya neraca perdagangan karena lonjakan harga minyak mentah dunia. Saat ini minyak mentah dunia berada di level 105,62 dolar AS per barel.

"Risiko harga minyak mentah dunia yang cenderung tinggi dapat mendorong 'yield' surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun meningkat," katanya.

Ia menambahkan bahwa meski data purchasing managers index (PMI) manufaktur Tiongkok menunjukan ekspansi, namun data PMI Manufaktur negara-negara di kawasan Eropa cenderung negatif, kondisi itu juga membuat rupiah kembali melemah.

Di sisi lain, lanjut dia, utang luar negeri perusahaan swasta yang jatuh tempo pada akhir semester satu tahun ini mendorong permintaan dolar AS meningkat sehingga membebani kinerja rupiah.

Kendati demikian, ia mengatakan bahwa tekanan rupiah masih cukup terjaga menyusul perkirakaan Bank Indonesia yang akan melakukan intervensi agar fluktuasi mata uang domestik tetap stabil sehingga tidak mengganggu perekonomian dalam negeri.

"Diperkirakan nilai tukar rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahannya namun terbatas," katanya. ***2***
(T.KR-ZMF/B/S. Suryatie/S. Suryatie)

Pewarta: Zubi Mahrofi
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026