Oleh Zubi Mahrofi

Jakarta, 14/2 (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat sore bergerak menguat sebesar 119 poin ke posisi Rp11.856 dibanding sebelumnya Rp11.975 per dolar AS.

"Defisit neraca transaksi berjalan Indonesia yang mengecil mendorong mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia menguat," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan, angka defisit transaksi berjalan diperkirakan dapat berkurang terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2014 menyusul data perekonomian domestik semakin membaik, sehingga nilai tukar rupiah stabil.

Dari eksternal, lanjut dia, data AS yang di luar estimasi mendorong sentimen minat terhadap aset berisiko (risk appetite) dapat meningkat seperti nilai tukar mata uang. Data-data AS yang kurang positif itu menimbulkan asumsi bahwa Bank Sentral AS masih akan memberikan pelonggaran stimulusnya.

Ia menambahkan kondisi politik di dalam negeri juga cenderung kondusif sehingga investor asing akan merasa nyaman.

Pengamat Pasar Uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menambahkan fundamental ekonomi domestik yang kondusif juga terlihat dari cadangan devisa Indonesia yang sebesar 100,651 miliar dolar AS pada Januari 2014.

"Posisi cadangan devisa di atas 100 miliar dolar AS itu membuat psikologis pasar keuangan domestik, itu yang membuat transaksi rupiah menguat," kata dia.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Jumat ini (14/2), tercatat mata uang rupiah menguat menjadi Rp11.886 dibanding sebelumnya (13/2) di posisi Rp12.073 per dolar AS. (KR-ZMF)

Pewarta: Zubi Mahrofi
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026