Jakarta, 20/1 (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore bergerak melemah sebesar 23 poin ke posisi Rp12.103 dibanding sebelumnya Rp12.080 per dolar AS.

Analis PT Platon Niaga Berjangka, Lukman Leong di Jakarta, Senin mengatakan belum bangkitnya perekonomian di negara-negara kawasan Asia, terutama China menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar keuangan Indonesia.

"Faktor eksternal belum mendukung penguatan mata uang domestik, koreksi nilai tukar juga terjadi pada mata uang utama dunia. Minimnya sentimen positif akan mendorong mata uang yang masuk kategori 'safe haven' seperti dolar AS cenderung menguat," ujar dia.

Ia menambahkan, efek pengurangan stimulus keuangan (tapering) oleh bank sentral AS (the Fed) menambah beban bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia berada di area positif.

"Efek 'tapering akan membuat likuiditas dolar AS semakin ketat," katanya.

Sentimen lainnya, lanjut Lukman Leong, inflasi domestik tahun ini juga diperkirakan masih cukup tinggi menyusul belum stabilnya perekonomian Indonesia.

"Diharapkan pemerintah dapat mengendalikan harga pangan di dalam negeri untuk menahan laju inflasi," ucapnya.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada menambahkan data klaim pengangguran AS yang kembali menurun menunjukan ekonomi AS cenderung pulih sehingga menguatkan mata uangnya.

Meski demikian, Reza mengatakan, optimisme kenaikan cadangan devisa di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia diharapkan mampu menahan sentimen yang menekan mata uang domestik.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Senin ini (20/1), tercatat mata uang rupiah menguat menjadi Rp12.110 dibanding sebelumnya (17/12) di posisi Rp12.127 per dolar AS. ***2***Budi Suyanto

(T.KR-ZMF/B/B. Suyanto/B. Suyanto)

Pewarta: Zubi Mahrofi
:

COPYRIGHT © ANTARA 2026