"Laju rupiah tertahan dengan kembalinya sentimen 'tappering off', sentimen itu membuat dolar AS melanjutkan apresiasinya," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Rabu.
Selain itu, lanjut dia, mulai adanya spekulasi akan meningkatnya kebutuhan dolar AS menjelang akhir tahun untuk pembayaran utang pemerintah maupun swasta membuat nilai tukar domestik menjadi tertekan.
Meski demikian, ia mengatakan bahwa Bank Indonesia masih menjaga mata uang domestik agar tidak terus tertekan lebih dalam.
Analis pasar uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubroto menambahkan bahwa meski rupiah melemah, namun kondisinya masih cenderung stabil menyusul sentimen positif di dalam negeri terkait data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia masih cukup kuat.
"Fluktuasinya masih cenderung stabil, pelaku pasar uang juga sedang menanti data ketenagakerjaan AS yang rencananya akan dipublikasikan pada akhir pekan ini. Data itu akan memberikan sinyal kepada pelaku pasar dalam mengantisipasi langkah the Fed terkait kebijakan moneternya," katanya.
Menurut dia, jika data tenaga kerja AS tidak sesuai dengan harapan the Fed maka "tappering off" diproyeksikan diundur. Namun bila sebaliknya, "tappering off" bisa dipercepat.
Ia memproyeksikan bahwa pada perdagangan Rabu ini, nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp11.650--Rp11.950 per dolar AS. ***3***
(T.KR-ZMF/B/M. Taufik/M. Taufik)
Pewarta: Zubi Mahrofi:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.