Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengatakan seseorang yang menderita autoimun memang sudah semestinya menyadari dan bersahabat dengan kondisi tubuhnya dengan menerapkan pola hidup sehat.

“Autoimun itu tidak boleh dilawan. Pasien harus bersahabat dengan dirinya sendiri. Makna bersahabat berarti dia akan memberikan sesuatu yang baik untuk kondisi sel-sel imunitasnya sehingga tubuh tidak memberi reaksi negatif,” kata ahli gizi yang mendapatkan gelar doktor di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini saat dihubungi ANTARA pada Rabu (21/7).

Rita yang juga ketua Indonesia Sport Nutrisionist Association (ISNA) itu mengatakan, sebetulnya tidaklah sulit bagi seorang autoimun melakukan pola hidup sehat yang khusus.

Baca juga: Pentingnya melindungi kesehatan mental anak saat pandemi COVID-19

“Saat ini pasien autoimun jumlahnya banyak sekali dan mereka sudah banyak yang memperoleh remisi,” ungkap ketua konsultan menu Sea Games pada 2012 ini.

Penderita autoimun memang tidak bisa sembuh, namun bisa mendapatkan remisi atau pengurangan. Remisi artinya kondisi seorang autoimun sudah terkontrol dengan baik. Itu sebabnya setiap penderita harus mendapatkan asupan gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan personalnya.

“Sebab asupan gizi yang tepat akan dilakukan di sepanjang hidupnya. Ketika pasien melanggar, maka sel imunitas akan kembali bekerja tidak normal,” terang Rita.

“Sebetulnya, jika pasien melanggar, dia akan kembali ke jalan yang 'benar' karena reaksi negatif akan langsung dirasakan. Penderita autoimun akan keluar-masuk rumah sakit,” tambahnya.

Baca juga: Satgas: Penanganan kesehatan dan ekonomi di bawah satu komando Presiden

Perbedaan kebutuhan diet pada setiap pasien autoimun dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, bergantung pada respons sel terhadap makanan. Kedua, bergantung pada permasalahan klinis yang mereka alami. Ketiga, seberapa berat atau ringannya kebocoran usus (likigan) yang mereka alami.

Selain menghindari kandungan kalori tinggi, gula, lemak jenuh, dan bahan kimia tambahan, pasien autoimun juga perlu meningkatkan konsumsi zat-zat yang mengandung anti-inflamasi untuk menurunkan risiko. Kandungan anti-inflamasi bisa didapatkan dari aneka rempah, seperti kunyit dan jahe.

Selain itu, penderita juga direkomendasikan untuk mengonsumsi kaldu tulang, minyak zaitun (olive oil), minyak kelapa murni (virgin coconut oil), serta makanan-makanan fermentasi non susu seperti kefir, natto, miso, dan kimchi.

“Secara umum, anjuran untuk pasien autoimun adalah konsumsi sayur-sayuran. Tapi harus diingat, bukan sayur-sayuran yang termasuk golongan terung-terungan, bukan sayuran hasil rekayasa genetika, dan bukan sayuran yang mengandung pestisida atau zat kimia,” papar Rita.

Rita juga menyarankan konsumsi buah-buahan non-pestisida dan melakukan olahraga rutin bagi penderita.

“Olahraga juga penting tapi aturannya juga sangat personal. Olahraga berlebihan yang tak sesuai dengan kondisi tubuhnya akan memicu sistem imunitas bekerja tidak terkendali,” kata Rita.

Meski begitu, seorang autoimun tidak boleh tidak berolahraga. Sebab aktivitas olahraga inilah yang membuat pasien mengalami perasaan lebih baik, nyaman, dan bahagia.

“Jika dia sudah melakukan asupan gizi secara personal, maka akan diatur juga jenis olahraga yang cocok untuk dirinya tanpa menimbulkan autoimun dan sesuai dengan basic kebugaran yang mereka miliki,” tambahnya.
 

Pewarta: Rizka Khaerunnisa

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2021