Medan, 1/2 (Antara) - Bulog Sumatera Utara menyatakan beras medium asal Vietnam yang dijual dengan harga murah, seperti di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, belum ditemukan beredar di pasar daerah itu.
"Kami sudah cek, belum ditemukan ada beras Vietnam dengan harga murah, sementara Bulog hingga dewasa ini masih mengandalkan pasokan antarpulau," kata Humas Bulog Sumut Rudi Adlyn di Medan, Sabtu.
Pada bulan Januari lalu, misalnya, ada pasokan beras asal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan sekitar 6.800 ton.
"Bulog memperhitungkan stok beras di pasar cukup aman karena stok di Bulog saja ada sekitar 70.000-an ton," katanya.
Meski belum ditemukan ada beras medium asal Vietnam itu, Bulog dan dinas terkait masih terus memantau pasar.
"Siapa tahu pula sudah ada beredar di daerah kabupaten/kota Sumut, tetapi belum terlihat," katanya.
Untuk memenuhi beras di pasar, khususnya dalam perdagangan eceran di Bulog Mart, kata dia, Bulog sendiri sudah melakukan kerja sama dengan berbagai perusahaan penggilingan.
Harga jual beras di Bulog Mart juga lebih murah dari harga pasar karena Bulog melakukan pembelian dan penjualan secara langsung yang akhirnya bisa menekan harga jual.
"Bulog siap melayani konsumen dengan harga jual dan kualitas barang yang terjamin,"katanya.
Pengamat ekonomi Sumut Wahyu Ario Pratomo memandang perlu Pemerintah menindak tegas pelaku perdagangan beras impor asal Vietnam itu kalau memang tidak ada izinnya.
Kalau tidak ada izin importasi beras asal Vitenam itu, kata dia, tentunya beras yang diperdagangkan tersebut adalah ilegal.
"Kalau ilegal, tidak hanya merugikan pedagang dengan praktik penjualan yang lebih murah, tetapi juga merugikan Pemerintah dan konsumen," katanya.
Menurut dia, Pemerintah dirugikan karena tidak adanya bea masuk yang diperoleh dan kerugian konsumen adalah dari tidak terpantaunya kualitas beras itu.
"Jadi, Kementerian Pertanian, Kemendag, dan pihak terkait lainnya, seperti Bea Cukai dan Pelindo, harus bersama-sama membahas serius masalah beredarnya beras impor asal Vietnam itu," katanya.
Tidak tertutup kemungkinan beras Vietnam itu masih banyak dan sudah beredar di daerah lain setelah ditemukan di Cipinang. (E016)
COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2014
"Kami sudah cek, belum ditemukan ada beras Vietnam dengan harga murah, sementara Bulog hingga dewasa ini masih mengandalkan pasokan antarpulau," kata Humas Bulog Sumut Rudi Adlyn di Medan, Sabtu.
Pada bulan Januari lalu, misalnya, ada pasokan beras asal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan sekitar 6.800 ton.
"Bulog memperhitungkan stok beras di pasar cukup aman karena stok di Bulog saja ada sekitar 70.000-an ton," katanya.
Meski belum ditemukan ada beras medium asal Vietnam itu, Bulog dan dinas terkait masih terus memantau pasar.
"Siapa tahu pula sudah ada beredar di daerah kabupaten/kota Sumut, tetapi belum terlihat," katanya.
Untuk memenuhi beras di pasar, khususnya dalam perdagangan eceran di Bulog Mart, kata dia, Bulog sendiri sudah melakukan kerja sama dengan berbagai perusahaan penggilingan.
Harga jual beras di Bulog Mart juga lebih murah dari harga pasar karena Bulog melakukan pembelian dan penjualan secara langsung yang akhirnya bisa menekan harga jual.
"Bulog siap melayani konsumen dengan harga jual dan kualitas barang yang terjamin,"katanya.
Pengamat ekonomi Sumut Wahyu Ario Pratomo memandang perlu Pemerintah menindak tegas pelaku perdagangan beras impor asal Vietnam itu kalau memang tidak ada izinnya.
Kalau tidak ada izin importasi beras asal Vitenam itu, kata dia, tentunya beras yang diperdagangkan tersebut adalah ilegal.
"Kalau ilegal, tidak hanya merugikan pedagang dengan praktik penjualan yang lebih murah, tetapi juga merugikan Pemerintah dan konsumen," katanya.
Menurut dia, Pemerintah dirugikan karena tidak adanya bea masuk yang diperoleh dan kerugian konsumen adalah dari tidak terpantaunya kualitas beras itu.
"Jadi, Kementerian Pertanian, Kemendag, dan pihak terkait lainnya, seperti Bea Cukai dan Pelindo, harus bersama-sama membahas serius masalah beredarnya beras impor asal Vietnam itu," katanya.
Tidak tertutup kemungkinan beras Vietnam itu masih banyak dan sudah beredar di daerah lain setelah ditemukan di Cipinang. (E016)
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2014