Medan, 13/8 (Antara) - Bulog memberhentikan operasi pasar beras di Sumatera Utara karena minat beli masyarakat cenderung menurun setelah harga bahan pokok utama itu kembali normal.
"OP sudah dihentikan sebelum Lebaran dan belum diaktifkan lagi karena harga beras masih stabil," kata Humas Bulog Sumut Rudi di Medan, Selasa.
Dia mengatakan itu usai mendampingi Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pusat Pasar untuk memantau harga sembilan bahan pokok (sembako) pasca-Idul Fitri.
Harga beras di pasar untuk jenis IR64 kualitas I tercatat sebesar Rp8.500 per kg dan kualitas II sekitar Rp7.200-Rp7.800 per kg.
"Sebelumnya Bulog melakukan OP beras karena harga mahal sehingga menambah beban masyarakat,"katanya.
Dia menyebutkan, OP beras Bulog yang dilakukan pada Ramadhan lalu hanya mencapai 13 ton.
Diakui, awalnya saja saat harga beras mencapai Rp7.600 hingga Rp8.000an per kg untuk IR 64 kualitas II, beras OP itu "diserbu".
Tetapi saat kembali turun mendekati Lebaran dan dewasa ini, beras OP itu tidak lagi diminati sehingga Bulog memilih menghentikan kegiatan OP itu.
Penggelontoran beras medium (OP) yang dilakukan di pasar tradisional seperti Pasar Brayan, Marelan, Belawan, Pusat Pasar, Sei Sikambing, Petisah, Melati, dan Pasar Sunggal dijual seharga Rp7.250 per kg untuk tingkat pedagang sehingga bisa dijual dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp7.500 per kg.
Pedagang sembako di Pusat Pasar Medan, Acai menyebutkan harga beras di pasar sejak H+1 Idul Fitri tren melemah diduga karena banyaknya pasokan.
"Beras dari Aceh banyak masuk ditengah permintaan yang turun siap Lebaran sehingga harga turun."katanya.
Pengamat ekonomi Sumut, Wahyu Ario Pratomo menyebutkan, pemerintah memang masih harus turun tangan untuk mengendalikan harga.
"Buktinya setiap Bulog melakukan OP, harga bisa tertekan.Itu artinya peran pemerintah masih sangat dibutuhkan sebagai pengendali harga sembako di luar perlunya campur tangan untuk memastikan pasokan yang memadai,"katanya.***3***
(T.E016/B/N. Yuliastuti/N. Yuliastuti)
COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2013
"OP sudah dihentikan sebelum Lebaran dan belum diaktifkan lagi karena harga beras masih stabil," kata Humas Bulog Sumut Rudi di Medan, Selasa.
Dia mengatakan itu usai mendampingi Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pusat Pasar untuk memantau harga sembilan bahan pokok (sembako) pasca-Idul Fitri.
Harga beras di pasar untuk jenis IR64 kualitas I tercatat sebesar Rp8.500 per kg dan kualitas II sekitar Rp7.200-Rp7.800 per kg.
"Sebelumnya Bulog melakukan OP beras karena harga mahal sehingga menambah beban masyarakat,"katanya.
Dia menyebutkan, OP beras Bulog yang dilakukan pada Ramadhan lalu hanya mencapai 13 ton.
Diakui, awalnya saja saat harga beras mencapai Rp7.600 hingga Rp8.000an per kg untuk IR 64 kualitas II, beras OP itu "diserbu".
Tetapi saat kembali turun mendekati Lebaran dan dewasa ini, beras OP itu tidak lagi diminati sehingga Bulog memilih menghentikan kegiatan OP itu.
Penggelontoran beras medium (OP) yang dilakukan di pasar tradisional seperti Pasar Brayan, Marelan, Belawan, Pusat Pasar, Sei Sikambing, Petisah, Melati, dan Pasar Sunggal dijual seharga Rp7.250 per kg untuk tingkat pedagang sehingga bisa dijual dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp7.500 per kg.
Pedagang sembako di Pusat Pasar Medan, Acai menyebutkan harga beras di pasar sejak H+1 Idul Fitri tren melemah diduga karena banyaknya pasokan.
"Beras dari Aceh banyak masuk ditengah permintaan yang turun siap Lebaran sehingga harga turun."katanya.
Pengamat ekonomi Sumut, Wahyu Ario Pratomo menyebutkan, pemerintah memang masih harus turun tangan untuk mengendalikan harga.
"Buktinya setiap Bulog melakukan OP, harga bisa tertekan.Itu artinya peran pemerintah masih sangat dibutuhkan sebagai pengendali harga sembako di luar perlunya campur tangan untuk memastikan pasokan yang memadai,"katanya.***3***
(T.E016/B/N. Yuliastuti/N. Yuliastuti)
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2013